Recent Post

Mulla Shadra

Mulla Shadra
Di samping Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Syihabuddin Suhrawardi, orang harus menyebut nama Muhammad bin Ibrahim al-Qawami asy-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra dalam jajaran sepuluh pemikir Muslim sejati.

Mulla Shadra lahir pada 1572 M. (979 H.) di kota Syiraz, wilayah selatan Iran, dalam lingkungan keluarga kaya. Konon, ayahnya adalah seorang pejabat di Istana Kerajaan Safawi, sebuah kerajaan Syiah yang berkuasa di Persia sejak 1501-1732 Masehi atau 907-1145 Hijriah. Pada 1640 M. (1050 H.), dalam perjalanan kakinya yang ketujuh menuju Mekkah untuk berhaji, Mulla Shadra terserang penyakit dan wafat di Basrah, Irak.

Sebagai anak tunggal, sejak masa kanak-kanak Mulla Shadra telah diarahkan ayahnya untuk berkonsentrasi menuntut ilmu. Segera setelah ayahnya meninggal, Mulla Shadra pindah ke kota Isfahan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, terutama dalam bidang-bidang ilmu rasional (missal : logika, teologi, dan filsafat) dan tradisional (misal : irfan, tafsir dan hadits). Guru pertamanya di Isfahan adalah Syaikh Baha’ ad-Din al-Amili atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Baha’i (1547-1622 M.). Pemikir Syiah asal Lebanon ini dikenal sangat rigorous dalam berargumen, selain juga gemar mengotak-atik astronomi, geometrid an arsitektur. Guru kedua Mulla Shadra adalah sobat sekalian rival Baha’i, yaitu Sayyid Muhammad Baqir atau lebih dikenal dengan Mir Damad (1543-1631 M.).

Syaikh Baha’i dan Mir Damad, ditambah Mir Findiriski, adalah para pelopor Mazhab Isfahan yang melambari pemikiran Mulla Shadra. Di reruntuhan bangunan yang berdiri pada periode Safawi di Isfahan terdapat lukisan dinding yang memperlihatkan ketiga tokoh terpandang ini di hadapan seekor singa. Lukisan ini merekam anekdot masyhur yang terjadi pada masa hidup ketiga tokoh yang memang sebaya ini. Menurut anekdot itu, ketika tiga orang ini sedang duduk-duduk berdiskusi di suatu ruangan istana, tiba-tiba seekor singa lepas dari kerangkengnya. Pada lukisan itu tampak Syaikh Baha’i bergerak menghindar, Mir Damad bersujud syukur dan Mir Findiriski yang acuh tak acuh dengan situasi sekitar. Tiga pemikir yang berkawan ini kemudian diminta untuk menjelaskan reaksi masing-masing. Syaikh Baha’i menjelaskan bahwa dia mengetahui singa tidak menyerang kecuali dalam keadaan lapar, tapi instingnya menggerakkannya untuk berjaga-jaga. Mir Damad menjelaskan bahwa dia bersujud syukur karena binatang buas tidak mungkin menyerang anak keturunan Nabi Muhammad SAW. Sementara Mir Findiriski yang juga anak keturunan Nabi menjelaskan bahwa dia bias menaklukan singa dengan kekuatan pengendalian diri. Terlepas dari ekstrapolasi hagiografisnya, hikayat ini dengan manis menampilkan zeitgeist periode Safawi yang melatari lahirnya filsafat Mulla Shadra.

Karakteristik paling menonjol dalam filsafat Mulla Shadra ialah penyatuan metode rasional-filosofis yang diwakili kalangan Peripatetik semisal Syaikh Baha’I dan metode spiritual-mistis yang diwakili kalangan Isyraqiyyah semisal Mir Damad dan Mir Findiriski di satu sisi, dan ajaran-ajaran Islam yang diyakininya di sisi lain.

Dalam karangannya yang berjudul Mafatih al-Ghaib, Mulla Shadra menuturkan :

“Banyak orang yang bergelut dalam ilmu pengetahuan menyangkal (adanya) ilmu gaib laduni (langsung dari sisi Allah) yang dipegang oleh salik dan urafa (yang lebih kuat dan lebih kukuh dibanding semua ilmu lain) dengan mengatakan : “Bagaimana mungkin ada ilmu tanpa proses belajar, berpikir dan berpandangan?”

Dalam magnum opus-nya, al-Asfar, Mulla Shadra bahkan menyatakan: “Teori-teori diskursif hanya akan mempermainkan para pemegangnya dengan keragu-raguan; dan kelompok yang datang belakangan akan melaknat kelompok yang datang sebelumnya, sehingga ‘Setiap umat yang masuk (ke dalam neraka) akan melaknat umat sebelumnya (yang telah ikut menyesatkannya)’ (QS. Al-A’raf : 38).

Dalam sistem filsafat Mulla Shadra, metode rasional-filosofis tidak bias berdiri secara terpisah dari metode penyucian ruhani dan begitu pula sebaliknya; keduanya saling membutuhkan, sedemikian sehingga bila yang satu berjalan tanpa yang lain maka kerancuan dan kesesatan akan terjadi. Mulla Shadra menyatakan :

“Kaum sufi biasanya mencukupkan diri pada rasa dan intuisi (wijdan) dalam mengambil kesimpulan, sedangkan kami tidak akan berpegang pada apa yang tidak berdasarkan bukti demonstrative (burhan)”.

Kemudian dia mengatakan :

“Janganlah engkau peduli pada pelbagai kepura-puraan puak sufi, dan jangan pula engkau gandrung pada pelbagai celoteh para filosof gadungan. Hati-hatilah, wahai sahabatku, dari kejahatan kedua puak ini. Semoga Allah tidak mempertemukan kita dan mereka biarpun hanya sekejap mata”.

Di tempat lain, dia menyimpulkan :

“Oleh sebab itu, yang paling tepat ialah kembali kepada metode kami dalam memperoleh makrifat dan pengetahuan dengan memadu-padankan metode para filosof yang bertuhan (muta’allih) dan para mistikus yang beragama Islam”.

Upaya Mulla Shadra mendamaikan metode rasinal-filosofis dan spiritual-mistis dengan ajaran-ajaran Islam sesungguhnya berangkat dari keyakinan pada kebenaran Islam. Baginya, kebenaran Islam yang menggabungkan kekuatan rasional dengan kekayaan spiritual hanya bias dipahami dan diapresiasi melalui kedua metode ini secara seimbang. Dalam al-Mabda’ wa al-Ma’ad, Mulla Shadra secara singkat memaparkan keserasian bukti-bukti rasional dan ajaran-ajaran tradisional Islam. Pada karya utamanya, al-Asfar, secara ekstentif ia meneguhkan keserasian metode filosofis dan mistis dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam al-Asfar, secara lantang ia menandaskan :

“Adalah mustahil hukum-hukum Syariat yang haq, Ilahi dan putih-bersih berbenturan dengan pengetahuan-pengetahuan yang mutlak aksiomatis; dan celakalah aliran filsafat yang prinsip-prinsipnya tidak selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah.



Syeikh al-Akbar Ibn ‘Arabi

(560-638 H/1165-1240 M)

Sekilas Tentang Kehidupan Ibn Arabi
Ayah Ibn ‘Arabi, ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Arabi, pergi ke Baghdad pada usia senja. Ia mendambakan seorang anak sebagai penerusnya ketika dia wafat. Dia pergi untuk menemui Syeikh besar Muhyiddin ‘Abdul Qadir al-Jilani dan memintanya untuk berdoa kepada Allah agar memberinya seorang anak. Syeikh berkhalwat dan melakukan perenungan. Sekembalinya, dia memberitahu ‘Ali ibn Muhammad ; “Aku telah melihat alam rahasia dan telah diungkapkan kepadaku bahwa engkau tidak akan mempunyai keturunan, maka janganlah engkau letihkan dirimu dengan berusaha”.

Meski kepalanya tertunduk, orang tua itu tidak akan menyerah. Dia meminta dan menegaskan : “Wahai Syeikh, Allah tentu akan mengabulkan doamu. Aku memintamu untuk memberikan syafaat kepadaku dalam masalah ini”.

Syeikh Abdul Qadir al-Jilani sekali lagi menyendiri dan melakukan perenungan. Tak lama berselang dia kembali dan berkata bahwa meski Ali ibn Muhammad tidak ditakdirkan untuk memiliki seorang keturunan, sedangkan sang wali sendiri tidaklah demikian. Apakah orang tua itu ingin mempunyai benih anak sang wali?.

Si tamu dengan gembira menerimanya. Kedua orang itu saling merapatkan punggung, kedua tangan mereka saling bertautan. Ali ibn Muhammad kemudian menuturkan peristiwa ini :

“Ketika aku merapatkan punggungku ke punggung sang wali Abdul Qadir al-Jilani, aku merasakan sesuatu yang hangat turun dari leherku ke bagian punggungku. Tak lama setelah itu seorang anak lahir untukku, dan dia kuberi nama Muhyiddin, seperti yang diperintahkan Abdul Qadir al-Jilani”.

Nama lengkap Muhyiddin ibn Arabi adalah Abu Bakr Muhammad ibn Ali ibn Muhammad al-Hatimi al-Tha’I al-Andalusi. Dia beroleh banyak gelar : al-Syaikh al-Akbar, Guru Besar; Khatim al-Auliya’ al-Muhammadiyyah, Penutup para Wali Muhammad; al-Syaikh al-A’zham, Guru Agung; Quthb al-Arifin, Poros Para Ahli Makrifat Imam al-Munahiyuddin, pemimpin Agama Para Mualaf; Rahbah al-Alam, Pembimbing Dunia; dan masih banyak lagi. Mengenai pengetahuannya yang luar biasa, Ibn al-Jawziyah berkomentar, “Ibn Arabi sangat menguasai kimia, dan mengetahui rahasia Nama Agung Allah, yang tersembunyi di dalam Al-Qur’an”. Syeikh Sa’duddin Hamawi berkata, “Muhyiddin adalah samudera pengetahuan tak berpantai”.

Muhyiddin Ibn Arabi lahir dikota Murcia propinsi Andalusia Islam, Spanyol, pada Senin 17 Ramadhan 560 H (28 juli 1165). Ayahnya adalah seorang sufi dan pribadi yang termasyhur dan terhormat. Pada masa kanak-kanaknya, di dididik dan diajarkan oleh dua wali wanita, Yasmin dari Marchena dan Fathimah dari Cordoba. Pada usia delapan tahun, Ibn Arabi dan keluarganya pindah ke Sevilla. Di sana dia belajar kepada Abu Muhammad dan Ibn Basykuwal, dua teolog dan ulama ahli hadist terbesar pada zamannya. Ketika dia berusia Sembilan belas tahun, sahabat sang ayah, filsuf dan sufi terkenal Ibn Rusyd (dikenal Barat sebagai Averroes), merasa tertarik untuk bertemu dengannya. Etrgerak oleh kekuatan besar yang dirasakannya melalui percakapan singkat dengan pemuda itu, sang ulama berbicara kepada ayahnya sesuai dengan yang diingat Ibn Arabi berikut ini :

Dia bersyukur kepada Allah karena dapat bertemu dengan orang yang telah memasuki penyendirian spiritual tanpa disadarinya dan meninggalkannya seperti aku. Dia berkata : “Itulah kejadian yang kemungkinannya telah kupastikan tanpa bertemu dengan orang yang telah mengalaminya. Mahasuci Allah bahwa aku hidup pada zaman ketika ada orang yang merasakan pengalaman ini, salah seorang dari sekian banyak orang yang membuka kunci pintu-Nya. Mahasuci Allah yang telah memberiku karunia bertemu langsung dengan salah seorang dari mereka”.

Karena ada rumor “apa yang telah Allah ungkapkan kepada seorang pemuda di tengah-tengah penyendirian spiritualnya” yang menarik perhatian Ibn Rusyd, kita tahu bahwa Ibn Arabi merasakan pengalamannya yang pertama, yakni pendakian mistik dalam khalwah, padahal dia berusia kurang dari dua puluh tahun. Tetapi, dia tidak menuliskan risalah ini, selama dua puluh tahun berikutnya.

Pada 1201, saat berusia 36 tahun, Ibn Arabi pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Pada saat itu dia berdoa kepada Allah agar mengungkapkan kepadanya semua yang terjadi di alam materi (jasmani) dan alam spiritual (ruhani). Allah, yang mengabulkan doanya, membuka alam rahasia kepadanya. Mengenai semua ini, Ibn Arabi kemudian berkomentar : “Aku tahu nama dan silsilah Quthb yang akan dating hingga hari kiamat. Tapi karena menentang apa yang ditakdirkan merupakan malapetaka yang sesungguhnya, karena kasih saying kepada generasi mendatang, kuputuskan untuk menyembunyikan pengetahuan ini”.

Setelah melaksanakan ibadah haji, Ibn Arabi pergi ke Mesir, Irak, dan damaskus, serta singgah di Konya, turki, di mana dia bertemu dengan Shadruddin Qunawi, seorang ulama sufi muda. Ibn Arabi menikah dengan ibu pemuda ini. Sadruddin muda menjadi salah seorang murid terdekatnya, yang diperkayanya dengan pengetahuan material dan spiritual yang luar biasa. Buku yang diedit di Konya oleh sang penulis tiga tahun setelah melaksanakan ibadah haji, kemungkinan pada mulanya disampaikan kepada orang suci ini.

Pada tahun 1223 H, Ibn Arabi kembali ke Damaskus, tempat dia bertemu, secara fisik maupun spiritual, dengan banyak guru sufi yang lain. Di sana dia menghabiskan sisa hidupnya. Konon dia wafat pada 1240 H.

Ibn Arabi menyebutkan bahwa dia bertemu Khidir, pembimbing gaib kaum sufi, sebanyak tiga kali. Pertemuannya yang pertama diceritakannya sebagai berikut :

Hal itu terjadi pada awal pendidikanku. Guruku, Abu al-Hasan, menisbahkan sebagian pengetahuan kepada seseorang. Sepanjang hari itu aku terus-menerus menentangnya atas hal tersebut. Ketika aku meninggalkannya, tepatnya saat pulang ke rumahku aku bertemu dengan orang yang tampan yang mengucapkan salam kepadaku dan berkata, “Hai yang dikatakan gurumu benar adanya-terimalah”.

Aku berlari kembali kepada guruku dan menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Dia bercerita kepadaku bahwa dia berdoa agar Khidir datang dan memperkuat ajarannya. Ketika mendengar hal itu, aku benar-benar memutuskan untuk tak pernah menentang lagi.

Mengenai pertemuannya yang kedua dia berkata :
… Aku tengah berada di pelabuhan Tunisia di atas sebuah perahu. Aku tak adapat tidur semalaman dan berjalan-jalan di geladak. Aku tengah menatap bulan purnama nan indah ketika tiba-tiba aku melihat seorang lelaki tinggi, berjenggot putih datang ke arahku, seraya berjalan di atas air di sebelah perahu. Aku heran. Dia berdiri tepat di depanku dan meletakkan kaki kanannya di atas kaki kirinya sebagai tanda memberi salam. Kulihat kakinya tidak basah. Dia menyampaikan salam kepadaku, mengucapkan beberapa patah kata, dan mulai berjalan menuju kota Menares, yang berada di sebuah bukit nun jauh di sana. Yang membuatku takjub, dia menempuh jarak satu mil dengan berjalan kaki. Dari kejauhan, aku bias mendengar suaranya yang merdu yang meyenandungkan dzikr. Keesokan harinya aku pergi ke kota itu, di mana aku bertemu dengan seorang syeikh yang bertanya kepadaku bagaimana pertemuanku dengan Khidir senja itu dan apa yang kami perbincangkan.

Pertemuan ketiga Ibn Arabi dengan Khidir, menurut salah satu riwayat, terjadi di sebuah masjid kecil di pantai Atlantik, Spanyol. Di tempat itu, Ibn Arabi tengah laksanakan salat zuhur. Dia bersama seseorang yang menolak adanya mukjizat. Ada beberapa pengembara lain di masjid itu. Tiba-tiba, dia melihat di tengah-tengah mereka sosok manusia serupa yang pernah ditemuinya di Tunisia. Orang yang tinggi dan berjenggot putih itu mengambil sajadahnya dari mimbar di masjid itu, mengangkatnya empat belas kaki di udara, dan melaksanakan salatnya di sana. Kemudian dia kembali untuk menceritakan kepada ibnu Arabi bahwa dia berbuat demikian sebagai dalil bagi sahabatnya yang skeptis itu, yang menolak mukjizat.

Ketika Muhyiddin Ibn Arabi berada di atas tingkatan Syeikh Abu al-Hasan al-Uryani, dia menulis sepucuk surat kepada gurunya, seraya berkata, “Hadapkanlah hatimu kepadaku dan sampaikan pertayaanmu, dan aku akan menghadapkan hatiku kepadamu serta menjawab semua pertanyaan itu”.

Tak lama berselang dia menerima sepucuk surat dari sang guru, yang berkata :
Aku bermimpi bahwa semua wali berkumpul di dalam majelis dengan dua orang berada di tengahnya. Salah seorang diantaranya adalah Abu al-Hasan ibn Siban. Aku tidak dapat melihat wajah yang lain. Kemudian kudengar suara yang mengatakan bahwa orang lain yang berada di tengah itu adalah seorang Andalusia, dan bahwa salah seorang dari keduanya akan menjadi quthb pada zaman kami. Sebuah ayat Al-Qur’an dibacakan dan kedua orang itu bersujud. Ada suara berkata, “Yang mengangkat kepalanya lebih dulu akan menjadi quthb”. Orang Andalusia itu mengangkat kepalanya lebih dulu. Aku bertanya kepada suara itu tanpa huruf atau kata-kata. Suara itu menjawabku dengan berembus ke arahku. Napas ini berisi jawaban atas semua pertanyaanku. Aku dan juga semua wali di dalam majelis itu mencapai ekstase karena napas ini. Kutatap wajah orang Andalusia yang berada di tengah lingkaran itu. Ternyata, itulah engkau, hai Muhyiddin Ibn Arabi.

Karya-Karya Ibn Arabi
Pengaruh spiritual menakjubkan wali ini, di Timur dan Barat, sangatlah jelas. Dia telah mengajarkan tauhid, Keesaan, kepada manusia, dan akan terus mencerahkannya hingga hari kiamat. Ajarannya tentang keagungan Penciptaan dan pengetahuannya yang luar biasa yang dipertontonkan dalam buku-buku seperti al-Futuhat al-Makkiyah (Wahyu-wahyu Makkah), Fushush al-Hikam (Permata Hikmah), dan sebagainya, yang jumlahnya lebih dari 500 karya-menjadi saksi atas kedudukannya yang penting.

Kisah Perjalanan Ibn Arabi
Dia mempunyai musuh sebanyak orang yang mencintainya; orang-orang fanatik laksana kelelawar yang dibutakan oleh cahaya sang wali. Sebagian orang memusuhi orang-orang yang tidak mereka kenal, tidak dapat mereka kenal, dan tidak dapat mereka pahami. Bahkan orang-orang yang menyebutnya al-Syaykh al-Akbar (Guru Besar) merupakan orang-orang yang tidak memehaminya. Sebagian mereka bahkan membencinya. Sang wali tidak hanya memaafkan orang-orang yang kurang baik ini namun bahkan menyatakan bahwa dia akan memberikan syafaat kepada mereka di hari kiamat, sebab mereka harus dikasihi karena tak mampu memahaminya. Sesungguhnya, seperti halnya pandai-emas mengetahui nilai emas, orang bijak mengetahui nilai pengetahuan dan manusia Sempurna yang sangat mengetahui memaafkan si bodoh karena kemiskinan mereka. Kasih sayang sang wali ini adalah bukti yang memadai atas kesempurnaannya.

Suatu hari, salah seorang musuh Ibn Arabi jatuh sakit. Sang Syekh pergi menjenguknya. Dia mengetuk pintu dan memohon kepada istri si sakit untuk memberitahu bahwa dia ingin menjenguknya. Wanita itu menyampaikan pesannya dan, sekembalinya, menyampaikan kepada Syekh bahwa suaminya tidak ingin bertemu dengannya. Syekh tidak punya urusan di dalam rumah ini, demikian sang istri memberitahunya. Tempat yang pantas baginya adalah gereja. Syekh berterima kasih kepada wanita itu dan mengatakan bahwa karena orang baik seperti suaminya tentu tidak akan mengirimnya ketempat yang buruk, dia akan menuruti saran itu. Maka setelah berdoa bagi kesehatan dan kesejahteraan orang sakit tersebut, Syekh pun berangkat ke gereja.

Ketika dia tiba, dia melepas sepatunya, masuk dengan rendah hati dan sopan. Lalu secara perlahan dan tenang berjalan ke sebuah sudut, tempat dia duduk. Pendeta tengah menyampaikan khotbah yang didengarkan Ibn Arabi dengan penuh perhatian. Di tengah-tengah khotbah, Syekh merasa si pendeta telah memfitnah Isa dengan menisbahkan kepadanya pengakuan bahwa dia adalah anak Allah. Syekh berdiri dan dengan santun menolak pernyataan ini. “Bapak pendeta yang terhormat”, demikian dia memulai, “Isa yang suci tidak mengatakan hal itu. Sebaliknya, dia meramalkan kabar gembira tentang datangnya Nabi Ahmad (Muhammad SAW)”.

Pendeta itu menolak bahwa Isa telah berkata demikian. Perdebatan terus berlangsung. Akhirnya Syekh, seraya menunjuk gambar Isa di dinding gereja itu, memerintahkan sang pendeta untuk bertanya langsung kepada Isa. Dia akan menjawab dan memutuskan masalah itu sekali dan buat semua. Sang pendeta menolak dengan keras, seraya menyatakan bahwa gambar tidak dapat berbicara. Gambar ini tentu, demikian Syekh menegaskan, demi Allah yang telah membuat Isa berbicara saat masih bayi di pangkuan Perawan Suci, juga akan membuat gambarnya berbicara. Jamaah yang mengikuti perdebatan yang sengit itu tertarik oleh pernyataan ini. Sang pendeta terpaksa berpaling pada gambar Isa dan bernicara kepadanya : “Wahai anak Allah! Tunjukkan pada kami jalan yang benar. Katakan kepada kami mana diantara kami yang benar dalam pernyataan kami”. Dengan kehendak Allah, gambar itu berbicara dan menjawab : “Aku bukan anak Allah, aku adalah utusan-Nya, dan sesudahku datang nabi yang terakhir, Ahmad Yang Suci; Kuramalkan hal itu kepadamu, dan kunyatakan kembali kabar gembira ini sekarang”.

Dengan keajaiban ini, semua jamaah menerima islam dan, dengan dipimpin oleh Ibn Arabi, mereka berbaris melewati jalan-jalan menuju masjid. Ketika mereka melewati rumah orang sakit itu, dia terlihat berada di dalam rumah, matanya terbelalak heran, seraya melihat ke luar jendela kea rah pemandangan ganjil ini. Sang wali berhenti, memberkati dan berterima kasih kepada pria yang telah menghinanya itu, seraya berkata bahwa dia terpuji atas keselamatan semua orang itu.

Tidak banyak orang yang memehami sang wali pada masa hidupnya. Suatu hari dia mendaki gunung di Damaskus, berdakwah dan berkata : “Hai penduduk Damaskus, Tuhan yang kalian sembah ada di bawah kakiku”.

Ketika mendengar kata-kata ini, orang melemparinya dengan batu, dan bersiap untuk membunuhnya. Sebenarnya, menurut salah satu tradisi, pada kejadian tersebut dia telah mati syahid. Menurut tradisi lain seorang Syekh pada zamannya, Abu al-Hasan, meredakan ucapannya dan menyelamatkannya dari kematian dengan dialog berikut :

“Bagaimana penduduk bias memenjarakan seseorang”, demikian dia bertanya kepada Ibn Arabi, “Yang melaluinya alam malaikat dating ke dunia fana?”

“Kata-kataku telah diucapkan, “Jawab Syekh, “Melalui racun keadaan yang engkau jelaskan”.

Tetapi ucapan Ibn Arabi dan karyanya telah menimbulkan reaksi keras semacam itu pada masa hidupnya dan, setelah wafatnya, orang menghancurkan pusaranya hingga rata dengan tanah.

Salah satu pernyataan yang mengandung teka-teki adalah “Idza dakhala al-sin ila al-syin/Yazhara qabru Muhyiddin”, yang berarti : “Ketika S memesuki Sy (huruf sin dan syin dalam bahasa arab), pusara Muhyiddin akan ditemukan”. Ketika sultan Utsmani IX, Salim II, menaklukan Damaskus pada 1516, dia memepelajari pernyataan ini dari seorang ulama sezaman yang bernama Zembili Ali Efendi, yang menafsirkannya : “Ketika Salim (yang namanya diawali huruf sin) memasuki kota Syam (nama Arab Damaskus, yang diawali huruf syin), dia akan menemukan pusara Ibn Arabi”. Kemudian Sultan Salim memperoleh keterangan dari para teolog kota itu mengenai tempat sang wali menyatakan “Tuhan yang kalian sembah ada di bawah kakiku”, dan tempat itu pun digali. Pertama, ditemukan perbendaharaan uang logam emas, yang mengungkapkan apa yang dimaksudkan oleh sang wali. Di sebelahnya, dia menemukan pusaranya. Dengan kekayaan yang ditemukannya, Sultan Salim mendirikan tempat ziarah dan masjid yang sangat indah di sekitar pusara itu. Ia masih ada hingga di kota Damaskus dan berada di sebuah tempat yang disebut Salihiyyah di lereng gunung Qasiyun.

Muhibbuddin al-Thabari menisbahkan kisah berikut kepada ibunya :
Muhyiddin Ibn Arabi tengah menyampaikan khotbah di Ka’bah tentang arti Ka’bah. Di dalam hati, aku tidak setuju terhadap ajarannya. Malam itu aku bermimpi bertemu syekh. Di dalam mimpi ini, Fakhruddin al-Razi, salah seorang teolog terbesar pada masa itu, dating melaksanakan haji dengan kemegahan dan upacara besar, dan telah bertawaf di Ka’bah. Matanya menatap seorang lelaki sederhana dalam pakaian ihramnya yang tengah duduk di sana dengan tenag. Dia berkata di dalam hati : “Betapa angkuhnya orang ini, tidak berdiri di depan tokoh besar sepertiku!”. Tak lama berselang, dia mulai berceramah di Masjid al-Haram, makkah. Seluruh penduduk kota Suci telah berkumpul untuk mendengarkan ucapan ulama besar yang merupakan penulis tafsir A-Qur’an paling penting ini. Fakhruddin al-Razi secara perlahan menaiki mimbar dan memulai ceramahnya : “Wahai kaum muslimin”-dan tak ada kata-kata lain yang keluar dari mulutnya. Seolah-olah semua isi pikirannya telah dihapus. Dia mulai berkeringat karena malu. Dia mohon maaf, seraya mengatakan bahwa dia kurang sehat, dan meninggalkan mimbar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setibanya di rumah, dia mengeluh dan berdoa, “Ya Allah, apa yang telah kulakukan sehingga Engkau menghukumku dengan aib semacam itu?” Malam itu, dalam sebuah mimpi, ditunjukkan kepadanya pria yang telah dicelanya di dalam hati karena tidak berdiri di depannya. Dialah Muhyiddin Ibn Arabi. Selam berhari-hari dia mencarinya di mana-mana. Persis ketika dia merasa putus asa untuk dapat menemukannya, pintu rumahnya diketuk orang, dan Ibn Arabi berdiri di depannya. Dia meminta maaf, dan pengetahuannya dikembalikan kepadanya.

Baru-baru ini, ada kasus ulama lain, Ibrahim Haleri, imam Masjid Fatih di Istambul, orang yang sangat ortodoks yang memusuhi ajaran-ajaran keagamaan Ibn Arabi. Suatu hari dalam diskusi yang sengit dengan orang yang membela syekh, dia menghentakkan kakinya, seraya berkata, “Seandainya aku ada di sana, aku pasti akan menginjak kepalanya seperti ini!” Ketika bernuat demikian, dia menginjak sebuah paku besar. Luka itu tidak pernah sembuh hingga menyebabkan kematiannya (Masjid Fatih berlantai batu, bukan kayu).

Menurut tradisi lisan, suatu hari di Damaskus Ibn Arabi melihat seorang pemuda Yahudi yang tampan. Ketika dia memperhatikannya, pemuda itu dating kepadanya dan menyebutnya “ayah”. Sejak hari itu dan seterusnya sang pemuda tak pernah meninggalkannya. Ayah pemuda itu mencari, menemukannya bersama syekh, dan ingin mengambilnya kembali. Sang pemuda tidak mengakuinya dan justru menyatakan syekhlah yang menjadi ayahnya. Si ayah dengan heran, berkata kepada syekh bahwa dia bias menghadirkan ratusan saksi untuk membuktikan bahwa pemuda itu adalah anaknya. Syekh menjawab, “Jika pemuda itu menyatakan aku adalah ayahnya, maka akulah ayahnya”. Si ayah pergi ke pengadilan mengadukan anaknya, seraya menunjukkan ratusan saksi. Ketika hakim bertanya kepada syekh apakah pemuda itu anaknya, syekh meminta agar sang pemudalah yang ditanya. Sang pemuda mengaku syekh sebagai ayahnya. Kemudian syekh bertanya kepada para saksi apakah pemuda Yahudi ini hafal Al-Qur’an. Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin seorang pemuda Yahudi hafal Al-Qur’an?” Hakim meminta pemuda itu membaca Al-Qur’an, yang dilakukannya dengan fasih dan indah. Kemudian syekh bertanya kepada para saksi apakah pemuda itu mengetahui hadist Nabi Muhammad. Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin seorang pemuda Yahudi mengetahui ilmu semacam itu, yang tidak menjadi pandangan hidupnya?” Hakim secara terbuka bertanya kepada pemuda itu tentang hadist Nabi. Sang pemuda menjawab setiap pertanyaan dengan tepat dan lengkap. Orang-orang Yahudi yang memahami keajaiban ini menerima Islam.

Cerita berikut dimuat pada bagian akhir Futuhat al-Makkiyyah : Dalam atmosfer ortodoks mazhab hokum Islam, seorang guru tengah menjelaskan akar kata zindiq (ateis). Sebagian murid nakal bertanya apakah mungkin kata itu berasal kata zenuddin, yang artinya “wanita beragama”. Murid nakal yang lain berkata, “Zindiq adalah orang seperti Muhyiddin Ibn Arabi … bukankah demikian, Syekh?” Guru itu dengan singkat menjawab, ya.

Saat itu bulan Ramadhan, bulan Puasa, dan sang guru telah mengundang murid-murid ke rumahnya untuk berbuka puasa bersama. Sambil duduk dan menunggu saat berbuka, murid-murid nakal yang sama mengusik guru mereka, dengan berkata, “Jika Anda tidak bisa menunjukkan kepada kami nama wali terbesar pada zaman kami, kami tidak akan berbuka puasa dengan makanan Anda”. Sang guru menjawab bahwa syekh terbesar di sepanjang zaman adalah Muhyiddin Ibn Arabi. Murid-murid menolak, sambil mengatakan bahwa sebelumnya di madrasah ketika mereka menyebut Ibn Arabi sebagai contoh orang zindiq, dia setuju. Kini dia malah menyatakan bahwa syekh itu adalah wali terbesar pada zaman mereka! Sang guru menjawab, seraya menyunggingkan senyum di bibirnya : “Di madrasah kita termasuk kaum ortodoks, ulama, dan ahli hukum; di sini kita termasuk para pencinta”.


Syaikh Ismail ash-Shirwani

Syaikh Ismail ash-Shirwani
Syaikh Isma`il ash-Shirwani (Mursyid Tariqat Naqshbandi Ke-32) adalah orang yang membawa tariqat Naqshbandi ke Daghestan. Beliau menyerukan jihad melawan penjajahan Rusia yang sangat kejam dan menghidupkan agama Islam kembali di negeri ini setelah sekian lama dibasmi. Beliau lahir pada hari Selasa, 7 Dzul Qaidah 1201H/1787 M di Kurdemir, distrik Shirwan di Daghestan, Kaukasia. Beliau memiliki tubuh yang sangat kekar dan tinggi. Beliau juga mempunyai warna kulit yang putih bersih. Mata dan janggutnya berwarna hitam. Suaranya bernada tinggi. Di antara nasihatnya, beliau berkata, “Jika seseorang mengabdikan dirinya kepada Allah swt, kebaikan pertama yang ia dapatkan adalah bahwa ia tidak lagi membutuhkan manusia”

"Siapa pun yang mendengar kata-kata bijak namun tidak mengamalkannya, ia termasuk munafik.”

"Allah memberikan hamba-Nya kenikmatan dalam berdzikir. Jika seseorang bersyukur kepadaNya dan merasa senang dengan hal itu, Allah akan membuatnya dekat dengan Nya. Jika orang itu tidak bersyukur kepadaNya dan senang dengan hal itu, dia akan menerima kenikmatan dari berdzikir itu tetapi hanya meninggalkannya di lidahnya.” "Sufisme adalah kemurnian, dia bukan suatu deskripsi. Dia adalah Kebenaran tanpa akhir, bagaikan sungai mawar merah.”

"Tasawwuf adalah berjalan dengan Rahasia Allah."

"Siapa pun yang memilih berteman dengan orang kaya dan meninggalkan orang miskin, Allah akan membuat hatinya mati."

Suatu hari Syaikh Isma`il yang sedang berada di masjid mengamati seorang miskin yang belum makan, minum dan tidur. Beliau mendekatinya dan bertanya padanya, “Apa yang kamu inginkan?” Dia berkata, Saya menginginkan roti hangat dan beberapa makanan.” Syaikh Isma`il mengangkat tangannya dan berdoa, “Yaa Allah, ini adalah hamba-Mu yang belum makan selama 3 hari. Aku mohon berilah ia makanan yang Engkau perkenankan untuknya." Belum selesai beliau berdo’a seorang laki-laki memasuki masjid dan berkata, Istri saya sakit dan saya bersumpah untuk memberi makan orang miskin agar istri saya diberkati. Saya telah membawa roti hangat dan beberapa makanan untuk diberikan kepada yang lapar.”

Salah satu pengikutnya di Daghestan berkata, “Syaikh Isma`il berkata kepada dirinya sendiri, ‘Wahai egoku, Aku marah terhadapmu. Aku akan melemparkanmu ke dalam kesulitan.' Beliau lalu pergi ke pegunungan di Daghestan dan berbaring di mulut gua di mana terdapat 2 ekor singa. Keduanya tidak bergerak, dan kita yang mengikutnya sangat heran. Lalu singa jantan mendekati beliau dengan sekerat daging yang besar di mulutnya dan duduk, jauh darinya, tidak mendekat namun hanya mengamatinya. Lalu singa betina mendekatinya dengan sedikit daging di mulutnya. Dia mulai menangis dan mengaum. Singa jantan mendekati si betina dan menghentikan tangisannya. Mereka berdua duduk memperhatikan Syaikh. Lalu singa jantan mengambil dua ekor anaknya dan menyerahkannya kepada ibunya, sementara itu dia mendekati Syaikh Isma'il. Dia duduk di sampingnya, menunggu di sana sampai Syaikh pergi.”

Suatu hari Syaikh Isma`il melewati sebuah desa. Ketika beberapa orang melihatnya dan mengenalinya, semua orang berlari mendatanginya. Syaikh di desa itu datang dan berkata, “Wahai Syaikh Isma`il, datang dan ajarilah kami." Beliau berkata, "Wahai Abu Said, Allah mempunyai dua jalan pengajaran: jalan yang biasa dan yang istimewa. Jalan yang biasa adalah yang kamu dan pengikutmu kerjakan. Yang istimewa, mari ikutlah bersamaku dan Aku akan menunjukkannya.” Mereka mengikutinya sampai tiba di sebuah sungai. Beliau berkata, “Ini adalah jalan Allah,” lalu beliau menyebrang sungai itu dan menghilang.

Syaikh Abdur Rahman ad-Daghestani meriwayatkan:

"Suatu hari aku sedang duduk bersama dalam sebuah majwlis. Kami melihat Syaikh Isma`il mendekat dengan memakai jubah wool dan dengan sepatu baru di kakinya. Aku bertanya dalam hati, 'Syaikh Isma`il itu adalah seorang Syaikh Sufi sejati. Aku akan datang padanya dan menanyakan hal yang sangat sulit untuk mengujinya apakah beliau sanggup menjawab atau tidak.' Aku mendekatinya dan beliau melihatku. Ketika aku mendekat beliau berkata, ‘Wahai Abdur Rahman, Allah berfirman dalam al-Qur’an untuk menjauhi pikiran yang buruk. Janagan mencoba bertanya kepadaku. Itu bukan suatu perilaku yang baik.’ Aku berkata dalam hati, ‘Ajaib! Ini adalah keajaiban yang hebat! Bagaimana beliau bisa mengetahui pertanyaanku dan bagaimana beliau mengetahui namaku?’ Aku harus mengikutinya dan bertanya lebih banyak.’ Aku berlari mengejarnya tetapi aku tidak dapat menemukannya.

Syaikh Muhammad ad-Daghestani berkata, "Suatu ketika aku keluar untuk menemui Syaikh Isma`il ash-Shirwani. Aku mencium tangannya dan meminta untuk menemaninya dalam perjalanan. Aku bepergian dengannya selama 2 hari. Selama itu aku tidak pernah melihatnya makan atau minum. Aku menjadi sangat lapar dan haus dan menjadi sangat lemah untuk melanjutkan perjalanan tanpa makanan dan minuman. Aku berkata, ‘Wahai Syaikh, Aku sangat lemah.' Beliau bertanya, 'Apakah kamu lapar atau haus?' Aku berkata, 'Ya, keduanya.' Beliau berkata, 'kalau begitu kamu tidak pantas menemaniku. Tutuplah matamu.' Aku menutup mata dan ketika aku membukanya aku menemukan bahwa aku telah berada di rumah."

Beliau wafat pada hari Rabu,10 Dzul-Hijjah 1255 H/ 1839 M Beliau dimakamkan di Amasya.

Beliau meneruskan rahasianya kepada ketiga kalifah yang seluruhnya adalah murid-muridnya. Suksesi yang banyak ini serupa dengan masa Sayyidina Shah Naqshband, ketika beliau menyerahkan rahasia tariqat kepada banyak kalifah, perbedaannya adalah pada masa Shah Naqshband, beliau menyerahkan rahasia utamanya hanya kepada seorang, Sayyidina `Ala'uddin al-Attar, di lain pihak Syaikh Isma`il menyerahkannya kepada tiga orang: Syaikh Khas Muhammad ash-Shirwani, Syaikh Muhammad Effendi al-Yaraghi al-Kurali, dan Sayyid Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni.



Suhrawardi Al Maqtul

Suhrawardi Al Maqtul
Jalur Keturunan

Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Syihabuddin Yahya bin Hafasy bin Amirek Suhrawardi dan beliau mendapat gelar al Maqtul. Beliau dilahirkan pada tahun 549 H. Suhrawardi sebuah desa dekat dengan kota Zanjan di sebelah utara Persia.

Kehidupan Al Maqtul.

Beliau yang hidup di lingkungan keluarga yang taat menjalankan perintah agama, membuat dirinya sejak kecil mempelajari dasar-dasar agama termasuk belajar membaca dan memahami Al-Quran. Di samping beliau mendapat didikan agama dari lingkungan keluarganya, beliau juga belajar kepada tokoh-tokoh agama yang terkenal seperti Imam Muhyuddin al Jaili, Syekh Zahiruddin al Qari dan Syekh al Mardini. Diantara ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari adalah ilmu Fiqh, Tafsir, Kalam, Mantiq, Tasawuf, Filsafat India, Yunani dan Filsafat Islam.

Setelah beliau dapat menyelesaikan belajar ilmu-ilmu agama kepada tokoh-tokoh tersebut. Lalu beliau ingin menambah pengalamannya, dengan mengunjungi berbagai Negara untuk mengkaji dan mendalami ilmu yang telah dimiliki dengan berdiskusi dengan para ulama’ terkenal diberbagai daerah seperti daerah Aleppo, Damaskus, Antholia dan sebagainya. Dalam pengembaraan itu beliau menggunakan waktu luangnya untuk mengadakan perenungan sufi dan mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah secara tekun dan rutin.

Setelah beliau memperoleh dan pengalaman yang banyak dari pengembaraan tersebut. Lalu beliau mengajarkan ilmu kepada para pengikutnya yang banyak, ajaran tasawuf yang diberikan kepada muridnya berupa filsafat isyraq berupa sinkretisme antara berbagai paham agama Hindu, Zoroaster, Yunani dan ajaran aliran agama seperti Karamithan dan syia’ah, oleh karena ajaran yang dibawa Al Maqtul dianggap oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi menyimpang dari ajaran islam dan dapat menyesatkan umat, maka Al Maqtul mendapat hukuman berupa hukum bunuh.

Pokok-Pokok Pikiran Al Maqtul.

Sebagaimana seorang sufi ada beberapa pokok pikiran yang dikembangkan oleh Al Maqtul, antara lain :
1. Menurut Suhrawardi Tuhan adalah Nurul Al Anwar (Cahaya dari segala cahaya) yang dapat bersinar terus menerus yang dapat menciptakan segala wujud dan tergantung segala kehidupan, cahaya dari segala cahaya itu tidak terbatas dan tidak terbatas. Ini adalah merupakan ajaran tasawuf yang dimulai dari pengakuan ujud Tuhan.

2. Suhrawardi membagi alam semesta ini kepada tiga bagian pokok, yaitu :
a. Alam Akal (Alam al ‘Uqul) yang disebut juga dengan Alam al Jabarut.
b. Alam Jiwa (Alam al Nufus) yang disebut juga dengan Alam al malakut.
c. Alam Jasad (Alam al Ajsam) yang disebut juga dengan Alam al Muluk.

3. Seseorang yang ingin meniti jalan di jalur sufi untuk mencapai hakikat sinar dan pancaran Nurul al Anwar, maka orang itu harus lebih dulu melalui berbagai maqamat seperti taubat, zuhud, ridha, mahabbah, tawakal dan mendekatkan diri kepada Allah.

4. Apabila seseorang sudah memasuki alam Ketuhanan, maka alam Ketuhanan yang dialami orang tersebut harus dilalui dengan tingkatan-tingkatan.

a. La Ilaha Illalllah (Tiada Tuhan selain Allah).
b. Kemudian meningkat kepada La Huwa Illa Huwa (Tidak ada Dia melainkan Dia).
c. Kemudian meningkat lagi kepada La Anta Illa Anta (Tidak ada Engkau melainkan Engkau).
d. Dan meningkat yang lebih jauh lagi kepada La Ana Illa Ana (Tidak ada Aku kecuali Aku). Kalau seseorang berada dalam tingkatan yang terakhir ini, maka seseorang sudah berada pada tingkat fana dan orang tersebut akan selalu mendapatkan pancaran sinar dari Nurul al Anwar.

Pokok pikiran yang keempat tadi merupakan maqam tertinggi berupa maqam Syauq (Kerinduan) dan membeningkan hati menghadap ilahi, dan apabila seseorang sudah berada dalam maqam kerinduan, maka seseorang tersebut kehidupannya sudah menyatu dengan ujud kesatuan.

Karya-Karya Al Maqtul.

Diantara kitab-kitab yang ditulis oleh Al Maqtul antara lain :
  1. Al Talwihat.
  2. Al Muqawamat.
  3. Al Mutaranat.
  4. Al Hikmatu at Israq.
  5. Al Hayak al Nur.
  6. Al Barakat al Illahiyat Wa’al Ni’mat al Samiawiyah.
  7. Al Gurbat al Gharbilah
  8. Al Waridat al Hahifah.
  9. Al Kalimat al Zauqiyah Wan Nuktat al Syaqiyali.
  10. Hikmatul Israq.

Kitab-kitab yang dikarang oleh Al Maqtul tersebut berupa ajaran-ajaran dan uraian-uraian yang banyak dipengaruhi ajaran Abu Yazid al Bisthami dan al Hallaj yang mewarisi ajaran Hermes, Phitagoras, Plato, Aristoteles, Neo Platonisme, Zoroaster dan filosof-filosof mesir kuno.

Wafatnya Al Maqtul

Beliau meninggal dunia karena mendapat hukuman mati dari Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang dilaksanakan oleh Al Zahn pada tahun 587 H. Dan ketika itu beliau masih berusia 38 tahun.



Syeikh Muhammad Yusuf Tajul Khalwati

Syeikh Yusuf al-Makassar
Jalur Keturunan.
Beliau adalah seorang sufi yang namanya waktu kecil dan besar tidak sama. Kalau waktu kecil beliau mempunyai nama Muhammad Yusuf Al Maqassari, tetapi setelah berusia tua beliau lebih dikenal dengan nama Syekh Yusuf Abui Mahasin Tajul Khalwati Hadiyatullah Al Maqassari. Beliau dilahirkan pada tahun 1036 H. di Makasar Ujung Pandang. Dan dari kota kelahiran itulah kemudian beliau di kenal dengan nama Al Maqassari.

Kehidupan Muhammad Yusuf.
Muhammad Yusuf dilahirkan di tengah-tengah keluarga kerajaan Goa yang menganut agama islam, dan dari lingkungan keluarga yang taat menjalankan perintah agama itulah sehingga sejak kecil beliau sudah mengenyam dasar-dasar pendidikan agama dari orang tuanya. Disamping beliau banyak menerima pelajaran dari kedua orang tuanya, beliau juga belajar kepada ulama-ulama lain yang terkenal, seperti :

  1. Belajar membaca Al Qur’an kepada Daeng Ri Tasammang.
  2. Belajar Bahasa Arab, Fiqh, Tauhid dan Tasawuf kepada Sayyid Ha Alwi bin Abdullah.
  3. Belajar kepada Jalaluddin Al Aidid.
Disamping beliau belajar kepada ulama-ulama tersebut beliau juga melakukan pengembaraan untuk memperluas dan memperdalam ilmu yang dimiliki, diantara daerah dan Negara-negara yang dikunjungi oleh Muhammad Yusuf adalah :

  1. Di Banten beliau menjalin persahabatan dengan kalangan kerajaan antara lain dengan Abdul Fatah kemudian dengan Sultan Ageng Tirtayasa.
  2. Beliau meneruskan perjalanannya ke Aceh dan bertemu dengan ulama besar yang bernama Al Raniri.
  3. Beliau meneruskan perjalanannya ke Yaman dan belajar kepada Paman Ulama terkenal seperti Syekh Muhammad bin Abdul Baqi Al Naqsyabandi, Sayyid Al Al Zabidi dan Muhammad bin Al Wajih, Al Sa’id Al Yamani.
  4. Beliau melanjutkan perjalanannya ke Hijaz (Mekkah dan Madinah) untuk menunaikan ibadah Haji dan menziarahi makam Rasulullah dan para sahabat. Dan di kota ini pula beliau memperdalam ilmu keislaman yang sudah lama diidam-idamkan kepada para ulama terkenal seperti Syekh Ahmad Hasan Al Ajami, Muhammad Al Mazru’ Al Madani, Abdul Karim Al Lahuri, dan Muhammad Muray Al Syamsi.
  5. Setelah beliau merasa cukup dengan ilmu-ilmu yang di dapat di Mekkah dan Madinah lalu beliau melanjutkan perjalanan ke Damaskus. Dan di kota ini beliau memperdalam ajaran tasawufnya kepada Syekh Ayub bin Ahmad bin Ayyub Al Dimasyqi Al Khalwati.

Setelah beliau memperdalam ilmunya dan memperluas wawasan keilmuannya, dengan mengunjungi berbagai negara islam lalu beliau pulang lagi ke Indonesia. Dan di tanah kelahirannya inilah beliau mengamalkan ilmunya sambil menulis karya-karyanya. Dan ketika, terjadi peperangan antara Banten dan Belanda beliau ikut membantu sampai beliau ditangkap oleh tentara Belanda dan diasingkan ke Srilangka dan di tahan di Ceylon.

Kehidupan yang dialami oleh Muhammad Yusuf di dalam penjara ini tidak membuat dirinya tidak bisa mengamalkan ilmunya, malah di dalam penjara ini beliau sempatkan untuk memberikan pengajian kepada rekan-rekannya dan menulis. Ternyata kegiatan yang beliau lakukan di dalam tahanan ini banyak menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Setelah beberapa tahun tinggal di tahanan Ceylon, beliau dipindahkan ke Tanjung Harapan Afrika Selatan, dan ditempat yang baru ini beliau juga mengamalkan ilmunya dan juga meneruskan kegiatannya, menulis karya-karyanya. Dan di kota Tanjung Harapan ini beliau mendapat pengikut dan beliau dikenal sebagai seorang sufi besar.

Keistimewaan Muhammad Yusuf.
Sebagai seorang sufi dan ulama terkenal ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Muhammad Yusuf, antara lain :
  1. Ketika beliau memperdalam ajaran tarekat Qadiriyah kepada Al Raniri beliau berhasil dengan baik dan mendapat ijazah Al Raniri.
  2. Beliau mendapat gelar dari gurunya yang bernama Syekh Ayub bin Ahmad dengan gelar “Al Taj Al Khalwati (Mahkota Khalwati).

Pokok-Pokok Pikiran Muhammad Yusuf.
Sebagai seorang sufi ada, beberapa pokok pikiran yang dikembangkan oleh Muhammad Yusuf diantaranya adalah :
  1. Hendaklah diketahui, kawan-kawanku ketaatan lahir yang tidak diikuti oleh ketaatan batin adalah seperti tubuh tanpa ruh, sedangkan keasyikan batin tidak diikuti kekuatan lahir adalah bagaikan jiwa tanpa tubuh.
  2. Ajaran tasawuf Muhammad Yusuf diawali dengan pemahaman dan pengalaman secara ketat kepada syariat islam, kemudian pemahaman dan penghayatan hakikat yang terkandung di dalamnya.
  3. Salah satu maqam terpenting yang dikemukakan oleh Muhammad Yusuf dalam Zubdat al Asrar adalah maqam muraqabah. Maqam ini secara tegas dan jelas dituangkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Maqam ini wajib dibina dan diterapkan terus menerus hingga kehadiran pengawasan dan penyaksian Allah itu tidak lepas dalam diri manusia.
  4. Muhammad Yusuf mengatakan perlunya maqam-maqam untuk membina akhlakul karimah terutama maqam ridha kepada Allah. Dengan maqam-maqam itu akhirnya seseorang akan mampu berakhlak dengan akhlak Allah. Dan apabila sudah demikian maka pendengaran, penglihatan, perkataan dan perbuatan lainnya selalu dalam pengendalian Allah.
  5. Muhammad Yusuf mengatakan bahwa tasawuf adalah Husn Al Khuluq, dan tidak ada tasawuf tanpa adanya Al-Khuluk itu maka tasawuf dimulai dengan menegakkan dan memantapkan niat dan kehendak menuju Allah dan akhirnya berakhlak dengan akhlak pemberian dari Allah.

Karya-Karya Muhammad Yusuf.
Muhammad Yusuf banyak meninggalkan karya-karya kepada orang-orang islam yang pernah beliau tulis selama beliau tinggal di dalam penjara. Diantara karya-karyanya adalah :
  1. Hablul Wari Li Sa’adat al Murid.
  2. Al Futuhat al Rabbaniyah.
  3. Zubdat Al Asrar Fi Tahqiq Ba’dhi Masyarib al Ahyar.
  4. Tuhfat al Labib Bi Liqai al Habib.
  5. Safinat al Sailiniyah.
  6. Al fawaidal Yusufiyah fi Bayani Tahqiqi al Shufiyah.
  7. Budayat al Mubtadi.
  8. Tuhfat al Abrar li Ahl al Asrar.

Wafatnya Syeikh Muhammad Yusuf.
Syeikh Muhammad Yusuf meninggal dunia pada tahun 1111 H di Tanjung Harapan Afrika Selatan.





Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi

Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi

Pendiri Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang Sufi dari Tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu'inuddin Al-Jisyti.

Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal. 583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, "Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut." (Nazhrah 'Abirah I'tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa'iduha Wa Ta'rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)

Merupakan suatu hal yang ma'ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah ĉ (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14)

Asas dan Landasan Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Makna Laa Ilaha Illallah : "mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan". (Jama'atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4).

Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid.

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri

Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: "Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya.

Sifat Ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir

Jamaah Tabligh membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh.

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim

Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini.

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat

Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya.

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah Subhanahu Wata'ala

Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta'lim setiap hari, majelis ta'lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur'an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i'tikaf pada setiap malam Jum'at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj.



Ibnu Athaillah Askandari

Ibnu Athaillah Askandari
Jalur Keturunan.

Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah. Sedangkan nama Askandari dibelakang namanya adalah nama julukan karena beliau tokoh sufi yang berasal dari Iskandariyah.

Beliau dilahirkan di Iskandariyah pada tahun 658 H. dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama.


Kehidupan Ibnu Athaillah.

Sebagai anak yang hidup dan dibesarkan dilingkungan keluarga yang taat menjalankan agama, tentunya ilmu yang pertama dipelajari dan di dalami adalah dasar-dasar ilmu agama, baik itu yang diberikan oleh orang tuanya maupun yang diberikan neneknya, karena neneknya juga seorang tokoh sufi dari Iskadariyah. Diantara ilmu-ilmu agama yang pernah dipelajari, seperti ilmu Fiqh, Tafsir, Hadist, Tauhid dan ilmu alat lainnya.

Dengan dimilikinya dasar-dasar ilmu agama tersebut, membuat dirinya terlalu fanatic terhadap ilmu yang pernah dipelajari tersebut dan menolak terhadap ilmu tasawuf, beliau terlalu fanatic terhadap ilmu fiqh. Tetapi setelah beliau mengamalkan ilmu yang pernah dipelajari dan banyak bergaul dengan para ulama dan tokoh-tokoh sufi, akhirnya beliau mulai tertarik kepada ajaran tasawuf dan sekaligus mempelajarinya.

Ajaran tasawuf yang tertanam pada diri Ibnu Athaillah banyak diperoleh setelah beliau mengamalkan ilmu agama yang dimilikinya, dengan seringnya bertemu dengan para sufi yang pada akhirnya dapat merubah pola hidupnya dan mengikuti kehidupan para sufi, diantara guru-gurunya adalah Syekh Abul Abbas al Marsi, Nadruddin al Munir, Syarafuddin al Dimyati, Al Muhyil al Mazani, Syamsuddin al Asfaham.

Setelah beliau mempunyai dasar agama yang kuat dan sudah memperoleh ajaran tasawuf dari para gurunya tersebut, kemudian beliau pindah ke kairo Mesir dan mengajar tasawuf-tasawuf kepada murid-muridnya di Universitas Al Azhar dan diantara murid-muridnya ada yang menjadi ulama terkenal seperti Imam Taqiyyuddin al Subki, Abu Abbas Ahmad bin Malik dan Daud bin Bahla.

Pokok-Pokok Pikiran Ibnu Athaillah.

Sebagai seorang sufi yang semula membenci terhadap ajaran tasawuf, ada beberapa pokok-pokok pikiran yang dikembangkan oleh Ibnu Athaillah diantaranya adalah :

1. Konsep Tasawuf yang dipakai oleh Ibnu Athaillah banyak mengambil dari ajaran Sazaliyah yang terhimpun dalam 5 azas antara lain:

a. Taqwa kepada Allah secara lahir batin.
b. Mengikuti As Sunnah dalam perkataan dan perbuatan.
c. Menolak kekuasaan makhluk dalam penciptaan dan pengaturan.
d. Ridha kepada Allah baik dalam keadaan sedikit maupun banyak.
e. Selalu ingat dan bersama Allah baik dalam keadaan senang maupun susah.

2. Ajaran pokok tasawuf Ibnu Athaillah adalah:

a. Peniadaan kehendak disbanding kehendak Tuhan.
b. Pengaturan manusia disbanding kehendak Tuhan.
c. Pengaturan manusia disbanding dengan pengaturan Allah SWT.

Untuk menegakkan adab sufi dan kehalusan akal budi kepada Allah, maka hanya kehendak dan daya Tuhanlah yang ditegakkan dalam setiap pembicaraan tasawuf.

Karya-Karya ibnu Athaillah.

Selama hidupnya ada beberapa karya tulis yang di hasilkan oleh Ibnu Athaillah, antara lain:
  1. Al Hikam, karya ini adalah yang paling terkenal yang pernah ditulis oleh Ibnu Athaillah, karena kitab itu pernah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa antara lain Turki, Spanyol, Inggris, Melayu, Urdu, dan juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di samping kitab tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, kitab tersebut juga ditulis dengan bahasa yang amat sederhana dan memuat 42 buah kalimat yang mengandung hikmah sufi.
  2. Al Tanwir Filsafat al Tadbir, kitab ini pernah dicetak beberpa kali, karena kitab ini member petunjuk-petunjuk kepada mereka yang ingin selalu bersama Allah dan hal-hal yang mengganggu.
  3. Lathaif al Mina Fi Manakhibal al Syekh Abi al Abbas al Marsi wa Salkhlii al Sazali, kitab ini menguraikan tentang sejarah, asal-usul para pemimpin dan ajaran-ajaran tarekat Sazaliyah yaitu Syekh Abul Abbas al Marsi dan Abu Hasan al Sazali.
  4. Tajul Arus al Hawi Litahzibin Nufus, kitab ini menguraikan berbagai ajaran dan penjelasan yang berkenaan dengan kehidupan sufi.
  5. Al Qasdul Mujarrad Fi Ma’rifat al Ism al Mufrad, kitab ini menguraikan tentang Tuhan, sifat, asma, af’alnya dan cara pencapaian ma’rifat.
  6. Miftahul Falah Wa Misbahul Arwah, kitab ini menguraikan pokok-pokok ajaran tentang riyadhah dan mujahadah dalam dzikir, uzlah, khalwat dan sebagainya.

Wafatnya Ibnu Athaillah.

Beliau meninggal dunia di Kairo Mesir pada tahun 709 H dan dimakamkan di kaki bukit Mukattam.



Syeikh Ibnu Araby

Ibn Arabi terlahir di Mursia, Andalusia pada 28 Juli 1165 dan meninggal pada 10 November 1240 M. Para sufi menjulukinya sebagai asy-Syaikh al-Akbar (Guru Besar). Hamper semua karangannya yang bertumpuk itu berbicara tentang wacana-wacana tingkat tinggi dalam bidang tasawuf, sehingga ia sering digolongkan sebagai pemikir Muslim yang “paling sulit dipahami”.

Berbagai isu intelektual yang menyurak di masa Ibn Arabi (seperti tasawuf, tafsir, hadits, fiqh, kalam (irologi), dan filsafat (dibahasnya secara sangat kaya dan mendetail. Meskipun sangat loyal kepada hadits, pemikirannya terkesan inovatif. Pelbagai karyanya telah menghadirkan khazanah perenungan yang prolific tentang semua dimensi Islam. Tidak berlebihan bila kita katakana bahwa Ibn Arabi adalah pemikir yang paling berpengaruh pada paro kedua sejarah Islam.

Pemikiran dan kepribadian Ibn Arabi yang senantiasa berkilau itu memikat dan mengilhami para pemikir Muslim hingga dewasa ini. Menurut James Morris :
“Mengikuti apa yang dikatakan oleh Whitehead tentang Plato, dengan kadar penekanan yang sama dapat dikatakan bahwa sejarah pemikiran Islam setelah Ibn Arabi (setidaknya sampai abad ke-18 yang menandai suatu perjumpaan yang sama sekali baru dengan Barat modern) tak lain merupakan serangkaian catatan kaki terhadap karya-karyanya.

Tiga gagasan besar Ibn Arabi yang paling berpengaruh pada perkembangan tasawuf adalah wahdah al-wujud (kesatuan wujud), alam al-Khayal (dunia imajinasi), dan al-Isan al-Kamil (manusia sempurna). Ungkapan wahdah al-wujud sebenarnya tidak pernah digunakan oleh Ibn Arabi sendiri. Para pengikutnya mengadopsi ungkapan ini untuk menjelaskan pemikiran Ibn Arabi. Setiap kali menggunakan kata wujud, Ibn Arabi selalu memperhatikan asal-usul etimologisnya. Baginya, wujud tidak hanya berate “Menjelma” atau “mengada”, melainkan juga berarti “menemukan” dan “ditemukan”.

Dalam konteks Ketuhanan, kata ini berarti bahwa Tuhan “Ada dan tidak pernah tidak ada”. Dan hanya Dialah yang “menemukan” diri-Nya dan segala sesuatu selain-Nya. Dengan kata lain, wujud tidak hanya bermakna keberadaan (existence), melainkan juga awareness, kesadaran, dan pengetahuan.ibn Arabi memakai kata khayal (imajinasi) untuk mengacu kepada segala sesuatu yang berada di posisi pertengahan, bukan sekedar kepada daya khayal yang melengkapi kerja nalar (reason) dalam pikiran manusia (mind). Contoh umum dari realitas khayali (imaginal) adalah pantulan cermin. Cermin maupun pantulannya tidak mengambarkan realitas yang seutuhnya. Kombinasi dari keduanya yang bias menghadirkan keutuhan realitas.

Imajinasi dalam pengertian seluas-luasnya adalah alam semesta beserta segala isinya, lantaran semua itu bukan sepenuhnya ‘adam (ketiadaan) dan bukan sepenuhnya wujud (keberadaan), melainkan “sesuatu di antara keduanya”. Dalam pengertian yang lebih sempit, alam semesta tercipta dari dua keadaan : ketampakan (syahadah) dan ketersembunyian (ghaib), tubuh dan ruh; makna (sense atau ma’na) dan persepsi (hiss). Di antara semua itulah Dunia Imajinasi berada. Tidaklah ia sepenuhnya ruhani, juga tidak sepenuhnya jasmani. Tidak semuanya indrawi (perceptible), juga tidak semuanya bebas dari sifat-sifat indrawi.

Di dalam diri manusia, imajinasi menrujuk kepada jiwa (nafs) yang berada di antara ruh (embusan Illahi) dan raga (lempung). Praktis semua awareness dan kesadaran terjadi di dalam imajinasi. Antara sisi ruhani dan jasmani, maknawi dan indrawi (sense perception) terjadi interaksi dalam dua pola : obyek-obyek spiritual terus menyempurna melalui instrument ragawi, sementara obyek-obyek ragawi berproses menjadi lebih spiritual.

Manusia sempurna adalah raison d’atre penciptaan alam semesta (macrocosmos). Tuhan mencipta alam semesta agar manusia bias mengetahui mutlaknya kesempurnaan Illahi. Sebagai makhluk yang tercipta dari citra Illahi, manusia berpotensi untuk mengetahui dan merengkuh sifat-sifat sempurna Tuhan (kecuali yang berkaitan dengan kemutlakan-Nya). Dengan mengaktualisasi semua potensi intelektual (mengetahui) dan eksistensial (menada), manusia sempurna telah memenuhi tujuan penciptaan. Bagi Ibn Arabi, manusia berada tepat di titik tengah yang tak terhingga. Ia adalah penampakan dari Dia atau bukan Dia, dari wujud atau bukan wujud. Dia selalu berada di tahap yang tak bertahap. Meski telah banyak menulis karangan, tetapi karya yang paling banyak dikaji dan diteliti adalah Fushush al-Hikam (Permata Kebijaksanaan) dan al-Futuhat al-Makkiyyah. Lebih dari seratus buku komentar telah ditulis untuk Fushush, dan akan terus ditulis pada masa-masa yang akan dating. Pada saat yang sama, ada sejumlah tulisan yang tak kalah banyaknya yang dibuat orang untuk menyerang dan mengutuk buku ini dan pengarangnya.

Al-Futuhat al-Makkiyyah berarti kumpulan futuh (pembukaan) di Mekkah. Menurut Ibn Arabi, Allah telah “membukakan” hatinya untuk dicurahi ilmu yang banyak. Kata futuh menyiratkan bahwa jenis ilmu itu datang kepada seseorang yang telah lama dan sabar menunggu di depan pintu. Pemberian ilmu jenis ini jelas tidak melibatkan paksaan dari dalam, upaya keras atau pencarian. Karena, mencari pengetahuan tertentu akan menyesatkan pelaku suluk dari pencarian akan Tuhan. Ibn Arabi menuturkan :
“Ketika aku terus-menerus mengetuk pintu Allah, aku menunggu dengan penuh waspada, tidak terganngu, hingga kemudian tampaklah oleh pandanganku kebesaran Wajah-Nya dan sebuah panggilan untukku, tidak lebih dari itu”.

Namun demikian, harus diingat bahwa tidak semua masukan (warid) bisa disebut futuh (pembukaan). Para sufi membedakan empat kategori lintasan pikiran (khawatir) : Ilahi, ruhani, ego-sentris (nafsani) dan syaithani. Menurut William Chittick.

“Dari perspektif Sufi, salah satu tanda penyimpangan paling jelas dari ‘spiritualitas’ kontemporer – terutama dari ragam ‘New Age’ – ialah ketakmampuannya memilah-milah sumber masukan. Pengetahuan yang dicurahkan kepada pencari Allah adalah pengetahuan mengenai Al-Qur’an dan Kalam Ilahi. Ibn Arabi menyatakan :

“Tiada yang dibukakan bagi wali Allah selain pemahaman tentang Kitab yang Agung”.



Fariduddin Al Attar

Fariduddin Al Attar
Perjalanan Fariduddin al Attar

Awalnya Attar adalah seorang pengusaha toko parfum yang berhasil. Waktu itu ia sedang bekerja di tokonya, diantara barang dagangannya, ketika seorang sufi pengembara muncul di pintu dengan mata basah dengan air mata, Attar menyuruh orang itu pergi.

“Kalau saya sih tak sulit untuk pergi.” Ujar si pengembara, “Saya tidak mempunyai apa-apa yang perlu diangkut kecuali jubah ini. Tetapi bagaimana dengan engkau sendiri?” sambungnya, “Kau harus berpikir bagaimana caranya jika harus pergi dengan semua ini?” Ucapan sang sufi ini berkesan sangat mendalam di lubuk hati Attar.

Setelah berpikir, ia menjual tokonya dan bergabung dengan paguyuban tasawuf di bawah bimbingan Syaikh Ruknuddin. Kisah ini diceritakan oleh Daulat Syah dalam bukunya, “Kisah-kisah Para Penyair”. Kisah alegoris Daulat Syah ini janganlah dianggap sebagai laporan factual. Seorang wartawan, walaupun bukannya tidak mengandung fakta, yang jelas, sejarah mencatat bahwa setelah bertahun-tahun ia hidup sebagai penyair sufi kreatif dalam paguyuban Syaikh Ruknuddin, ia meninggalkan paguyuban itu dan melakukan perjalanan menuju Makkah. Kitab Tadzkiratul Awliya’ adalah terjemahan dari sejumlah kitab karya prosa satu-satunya Fariduddin Attar yang ditulis dalam pengembaraannya itu.

Dalam menulis kitab Tadzkiratul Awliya’ Attar mengikuti tradisi tasawuf yang menjadikan karya sastra bukan sebagai sarana pengungkapan diri si penulis seperti dalam tradisi Barat Modern, tetapi sebagai sarana pendidikan spiritual. Sayang penerjemah ke bahasa inggris melakukan pemerkosaan struktural terhadap karya besar ini. Sang orientalis penerjemah mengambil bagian kisahnya saja dan membuang bagian komentarnya. Kemudian penerjemah Inggris itu mengurut kisah-kisah itu secara kronologis. Dengan demikian apa yang di dapati adalah kisah-kisah lepas tanpa perangkum.

Walaupun begitu, seperti mutiara, tanpa dirangkum pun masing-masing kisah itu tetap indah dan berharga. Setidak-tidaknya satu demi satu kisah tersebut dapat di gunakan untuk membuka kelopak demi kelopak bunga rohani diri kita masing-masing. Dan memang itulah peranan kisah sufi dalam tarekat, seperti halnya koan, dalam tradisi zen, yaitu sebagai sarana pembuka tingkat-tingkat kesadaran. Tetapi berbeda dengan koan yang absurd dan anti logis itu, kisah-kisah sufi itu tetap berada dalam kerangka logika, walaupun isinya kadang-kadang bertentangan dengan hukum-hukum fisika.

Fariduddin al Attar Penyair Besar Persia

Fariduddin al Attar adalah seorang di antara penyair besar Persia. Kedudukan al Attar sebagai tokoh genius dalam kesusastraan semakin kukuh dengan adanya penyelidikan terhadap karyanya yang hingga saat ini belum tergali seluruhnya, namun tentulah menggembirakan, karena sebagian dari karya-karyanya telah berhasil diterbitkan.

Dari sekian banyak epik dan syair yang di duga sebagi karya Attar, hanya Sembilan buah yang dapat dianggap benar-benar otentik. Di antara kesembilan buah karya ini, yang termashur adalah Manthiquth Thair, sebuah alegori yang halus dan indah mengenai perjalanan sukma menuju Allah, alegori yang dapat dipahami – walaupun secara tidak sempurna benar – oleh pembaca-pembaca yang berbahasa Inggris karena adanya Bird-Parliament (Musyawarah Burung), sebuah ringkasan dari Edward Fitzgerald.

Attar dan Karyanya, "Tadzkiratul Awliya"

Di samping karya-karyanya yang berbentuk syair, masih ada sebuah yang berbentuk prosa, yaitu Tadzkiratul Awliya. Kegeniusan Attar, sudah tentu pada begian-bagian yang terpenting di dalam karyanya tidak dapat di ragukan lagi. Mungkin sekali Tadzkiratul Awliya’ diselesaikan dan diterbitkan pada masa-masa terakhir kehidupan Attar, namun sebagian daripada konsep-konsepnya telah ada ketika ia menulis syair-syair.

Hal itu kita simpulkan karena banyak hikayat-hikayat di dalam syair-syair Attar tersebut jelas berdasarkan materi-materi yang terkandung di dalam Tadzkirat. Di dalam kata pengantar Tadzkirat, Attar mengemukakan alasan-alasannya untuk menulis buku ini, tetapi ia tidak menerangkan sumber-sumber mana yang telah dipergunakannya. Alasan-alasan yang dikemukakan Attar tersebut, seperti yang diikhtisarkan oleh R.A. Nicholson, adalah sebagai berikut:
  1. Ia diminta untuk menulis buku oleh saudara-saudaranya seagama.
  2. Ia berharap agar sebagian dari para pembaca sudi mendoakan keselamatannya, yang mungkin dapat menjamin kesejahteraan di dalam kubur.
  3. Attar yakin bahwa ucapan-ucapan dari manusia suci sangat bermanfaat, sekalipun bagi orang-orang yang tidak dapat mempraktekkannya, karena ucapan-ucapan tersebut mengokohkan aspirasi dan menghancurkan keangkuhan diri.

Wafatnya

Dengan adanya berbagai studi mengenai Attar, dalam studi bibliografi, bahwa Attar meninggal dunia di antara tahun 1220 dan 1230 M dalam usia lanjut, mungkin di tangan orang-orang Mongol yang menyerang Persia. Pendapat yang biasanya kita dengar mengatakan bahwa Attar lahir pada tahun 1119 M dan dibunuh orang pada tahun 1230 M, namun umumnya pendapat ini dibantah orang. Menurut Armahedi Mahzar dalam sebuah penutup pengantar mengisahkan sebagai berikut:

Ketika tentara Jengis Khan memporak-porandakan Persia pada tahun 1220, al Attar berumur seratus sepuluh tahun, ikut tertangkap. Salah seorang serdadu Mongol berkata, “Jangan bunuh si tua Bangka ini. Saya akan bayar seribu keeping uang perak sebagai pengganti nyawanya. ”Attar mengatakan, “Tunggu dulu. Harga saya pasti lebih dari itu.” Kemudian seorang serdadu lain menawarkan sejumlah jerami. “Tukarkan nyawa saya dengan jerami itu,” kata Attar, “karena memang seharga itulah saya.” Serdadu pertama pun marah dan memenggalnya. Attar pun menjemput maut dengan kalimat “La ilaha illallah Muhammadarrasulullah”.



Al Imam Ali Zainal Abidin

Ali bin Husain, yang juga dikenal sebagai Ali Zainal Abidin, adalah salah seorang sufi yang paling masyhur sepanjang sejarah Islam. Selain karena kedudukan spiritualnya yang tinggi dan statusnya sebagai cucu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kemasyhurannya juga berasal dari penokohannya dalam tarekat-tarekat mu’tabarah seperti Qadiriyah dan Naqsybandiyah. Julukan Zayn al-’Abidin (hiasan para hamba) dan as-Sajjad (orang yang banyak bersujud) menggambarkan betapa penting posisi beliau dalam sejarah spiritual Islam.

Warisan intelektual dan spiritual Ali Zainal Abidin yang paling popular adalah ash-Shahifah as-Sajjadiyyah (Lembaran as-Sajjad). Doa-doa dan munajat-munajat yang terkandung dalam gita suci ini tak lain berasal dari ungkapan-ungkapan spontan Ali Zainal Abidin ihwal berbagai pengalaman batin yang dilaluinya. Pengamatan sepintas atas bahasa dan diksi kumpulan doa itu cukup untuk memperlihatkan nada spontanitasnya yang merekam emosi terdalam manusia.

Hampir semua doa yang tercantum dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyyah adalah riwayat yang disampaikan oleh para sahabat Ali Zainal Abidin. Para sahabat inilah yang secara langsung menyaksikan apa yang terjadi pada diri Ali Zainal Abidin saat doa-doa itu terucap dari mulut suci beliau. Satu dari sekian cerita dramatis yang dilaporkan Ibn Thawus berikut ini merupakan gambaran keagungan hati Ali Zainal Abidin.

“Saya pernah melihat Ali Zainal Abidin bertawaf mengelilingi Ka’bah sejak Isya’ hingga menjelang sahur. Setelah itu beliau melakukan berbagai ibadah lain. Ketika sudah tak ada seorang pun di sekitarnya, ia mulai menatap langit, menengadahkan tangannya lantas berdoa : “Tuhanku, berkelip-kelip sudah bintang-gemintang di langit-Mu, terpejam sudah mata para hamba-Mu, dan telah terbuka lebar pula berbagai pintu-Mu. Aku datang kepada-Mu agar Engkau sudi mengampuniku, merahmatiku, dan menampakkan wajah kakekku Muhammad SAW kepadaku kelak di hari kiamat”.

Sesudah itu beliau menangis tersedu-sedu, lalu kembali berdoa :
“Demi keagungan dan kemuliaan-Mu, kemaksiatanku sekali-kali tiada untuk menentang-Mu. Ketika aku bermaksiat kepada-Mu, maka itu bukan karena aku ragu kepada-Mu. Tidak pula itu karena aku tidak tahu bencana (akhirat)-Mu atau menantang siksa-Mu. Tetapi hal itu semata-mata karena aku digelincirkan oleh diriku. Karena itu, berilah aku pertolongan untuk menghadapi semua ini, melalui penutup-Mu yang memberi ketenteraman hati. Siapa kelak yang bakal menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dengan tali apa aku harus berpegang bila engkau putuskan tali-Mu? Oh, alangkah buruk nasibku ketika kelak berdiri di hadapan-Mu? Alangkah sial aku bila umurku panjang tetapi dosaku bertumpuk, sementara aku tidak pernah bertobat kepada-Mu? Tidakkah aku akan sangat malu pada-Mu, Tuhanku?”

Tangisnya semakin menjadi-jadi ketika beliau melantunkan munajat berikut ini :
Apakah Engkau akan membakarku dengan api neraka, wahai puncak segala harapan? Jika memang demikian, dimanakah Harapanku dan di mana pula Keaksihku? Aku datang (kepada-Mu) dengan amal yang buruk dan penuh dosa. Di persada ini tiada yang begitu berdosa seperti aku”.

Sambil terus bercucuran air mata, beliau bertutur :
“Mahasuci Engkau! Engkau dimaksiati seakan-akan Engkau tiada tampak sementara kasih saying-Mu berupa perbuatan-perbuatan baik-Mu kepada para hamba tidak pernah terhenti, sekan-akan Engkau tak pernah dimaksiati. Seolah-olah Engkaulah yang membutuhkan mereka, padahal Engkau, wahai Junjunganku, sama sekali tiada membutuhkan mereka”.

Sebentar kemudian beliau tersungkur ke tanah dalam keadaan sujud. Pelan-pelan aku mendekatinya dan mengangkat kepalanya untuk kuletakkan di pangkuanku. Aku pun hanyut dalam tangis, sampai-sampai air mataku membanjiri pipinya. Beliau duduk dan berkata :

“Siapakah gerangan yang mengganggu zikirku ini?”

“Saya Thawus, wahai putra Rasulullah”, jawabku.

“Duhai, apa yang membuat Tuan sedemikian prihatin dan bersedih seperti ini ? Kamilah yang sepatutnya melakukan semua ini, lantaran kami adalah orang-orang yang bermaksiat dan berdosa. Sedangkan tuan adalah Ali Zainal Abidin. Ayah Tuaan adalah al-Husain bin Ali, cucu Rasulullah. Nenek Tuan adalah Fatimah az-Zahra. Dan ayah nenek Tuan adalah Rasulullah SAW”.

Sembari menatapku beliau berkata :
“Sudahlah Thawus … sudahlah. Jangan kau bawa-bawa ayah, ibu, dan kakekku. Sebab, Allah menciptakan surge bagi para pelaku kebaikan, sekalipun dia negro dari Habasyah. Dan menciptakan neraka bagi para pelaku kemaksiatan, sekalipun dia orang Quraisy. Tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah yang artinya:

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (QS. Al-Mukminun : 101)

“Demi Allah, tiada yang bermanfaat bagimu kelak kecuali amal salehmu sendiri”.



Al Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi

Riwayat Hidup Penyusun Kitab Maulid Simthud Durar

Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum'at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang solihah yang amat bijaksana.

Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, dia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepemimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.

Selanjutnya, beliau melaksanakan tugas-tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, di samping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.

Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid "Riyadh" di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.

Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia.

Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.

Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi'ul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta). Dia dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan.

Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi'ul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.

Dan di antara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya).

Diambil dari : situs alawiyin

Ala'uddin al-Bukhari al-'Aththar qs

"Diam (menahan diri) adalah keadaan terbaik, kecuali dalam tiga hal:
Kalian tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi gosip buruk yang terbersit dalam hatimu;
Kalian tidak boleh berdiam diri dalam mengarahkan dirimu untuk mengingat Sang Pencipta saat terjaga;
Dan kalian tidak boleh berdiam diri ketika pandangan spiritual dalam hatimu memerintahkan untuk bicara."
- Ala'uddin al-Bukhari al-'Aththar qs -

Ala'uddin al-'Aththar lahir sebelum pertengahan abad ke-14 Masehi. Beliau meninggalkan semua warisan ayahnya kepada kedua saudaranya dan mengabdikan dirinya untuk belajar di sekolah-sekolah di Bukhara. Beliau menjadi ahli di setiap bidang yang dipelajarinya, khususnya dalam bidang Sufisme dan Islam.

Beliau melamar putri Syah Naqsyband qs, memintanya untuk menikah dengannya. Jawaban Syah Naqsyband qs baru muncul di suatu hari, lewat tengah malam, ketika beliau terbangun dari tidurnya di Qasr al-'Arifan. Dengan segera beliau pergi ke sekolah di Bukhara di mana Ala'uddin qs tinggal. Di sana beliau melihat semua orang tertidur, kecuali Ala'uddin qs, yang tetap terjaga dengan membaca al-Qur'an diterangi cahaya dari sebuah lampu minyak yang kecil.
Beliau mendatanginya dari belakang dan menepuk pundaknya tetapi Ala'uddin qs tidak menoleh. Beliau menepuknya lebih keras, tetapi tetap diam. Melalui pandangan spiritualnya, Syah Naqsyband qs kemudian mengerti bahwa Ala'uddin qs tidak berada di sana tetapi sedang berada dalam Kehadirat Ilahi. Beliau lalu memanggilnya secara spiritual dan dengan segera Ala'uddin qs menoleh dan berkata,"Oh Guru." Syah Naqsyband qs berkata, "Aku bermimpi bahwa Rasulullah (saw) telah menerima lamaranmu kepada putriku. Dengan alasan itulah, Aku datang sendiri ke sini, di tengah malam, untuk menyampaikan kabar gembira ini."

Ala'uddin qs berkata, "Guru, Aku tidak punya apa-apa yang bisa dibelanjakan untuk putrimu maupun untuk diriku sendiri, karena Aku sangat miskin, seluruh warisan ayahku telah kuberikan kepada saudara-saudaraku." Syah Naqsyband qs menjawab, "Anakku, apa pun yang telah dituliskan Allah ta'ala kepadamu di Hari Perjanjian akan tetap menjadi milikmu. Jangan khawatir, Allah ta'ala akan menyediakannya."

Ala'uddin pernah bercerita, "Suatu hari seorang Guru bertanya kepadaku, "Bagaimana hatimu?" Aku berkata, "Aku tidak tahu bagaimana keadaan hatiku." Guru itu berkata, "Aku tahu hatiku, dia bagaikan bulan di sepertiga malam."

Aku lalu menceritakan hal ini kepada Guruku Syah Naqsyband qs dan beliau berkata, "Dia berkata berdasarkan keadaan hatinya." Ketika beliau mengatakan hal itu, beliau meletakkan kakinya di atas kakiku dan menekannya. Tiba-tiba Aku meninggalkan tubuhku dan melihat bahwa segala yang ada di dunia ini dan seluruh alam semesta berada dalam hatiku. Ketika aku terjaga kembali dari "keadaan spiritual" itu, beliau masih berdiri di atas kakiku, dan berkata, "Jika hati seperti itu, maka tak seorang pun yang dapat melukiskannya. Sekarang bagaimana menurutmu, Ala'uddin, hadits qudsi yang berbunyi, 'Bumi dan langit tidak dapat memuat diriku, tetapi AKU berada dalam hati orang-orang yang benar-benar beriman.' Ini adalah salah satu rahasia yang engkau harus pahami."

Selanjutnya Syah Naqsyband qs bertanggungjawab penuh atas perkembangan spiritual dirinya. Beliau mengangkatnya dari satu tingkat "kesadaran spiritual" ke tingkat lainnya dan mempersiapkannya untuk hadir dalam Kehadirat Ilahi dan untuk mendaki menara Pengetahuan Spiritual yang agung dan meninggalkan segala macam kebodohan spiritual untuk mencapai tingkat Realitas, Hakikat.

Beliau dilatih sedemikian sehingga memiliki kekhususan di antara sekian banyak murid Baha'uddin Naqsyband qs. Selama hidupnya Syah Naqsyband qs memerintahkannya untuk memberi pencerahan kepada para muridnya yang lain. Syaikh Ala'uddin qs sangat disayang dan diistimewakan oleh Syah Naqsyband qs karena kejujuran, kesalehan, kezuhudan, ketakwaan, dan kerendah-hatiannya, sebagaimana Nabi Yusuf 'alayhi as-sallam yang sangat disayang oleh ayahandanya, Nabi Ya'qub 'alayhi as-sallam.

Dari mutiara-mutiara nasehat beliau, Syaikh Ala'uddin qs, antara lain, berpesan:

Perihal Perilaku yang Benar:
"Kalian harus berada pada tingkat yang sesuai dengan orang-orang di sekitarmu dan menyembunyikan "keadaan spiritualmu" yang sebenarnya dari mereka, karena Rasulullah (saw) bersabda, 'Aku telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-orang sesuai dengan apa yang bisa dimengerti, ditampung oleh hati mereka.' "

"Waspadalah, jangan sampai menyakiti hati kaum Sufi sejati. Jika engkau menginginkan persahabatan mereka, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan mereka adalah jalan yang paling halus, lembut, dan santun. Disebutkan bahwa, 'Tidak ada tempat di Jalan Kami bagi orang-orang yang tidak memiliki adab (etika) yang baik.' "

"Jika engkau mengira bahwa engkau telah berperilaku baik berarti engkau salah, karena memandang dirimu baik adalah suatu kesombongan."

Perihal Dzikir Terbaik:
"Jalan untuk berkontemplasi (merenung, tafakur) dan meditasi lebih utama dan lebih sempurna daripada berdzikir dengan kalimat "Laa ilaaha illallah". Para pencari, melalui kontemplasi dan meditasi (muraqabat), dapat meraih pengetahuan internal (batin) dan mampu memasuki Kerajaan Surgawi (dalam kalbu). Yang dengan itu, dia akan diberi kemampuan, kekuasaan untuk "melihat" keadaan batin, realitas spiritual makhluk-makhluk Allah dan mengetahui apa yang terlintas dalam hati mereka, bahkan gosip atau bisikan terkecil pun dapat diketahuinya. Dan dengan itu pula, dia akan diberi kekuasaan, kemampuan untuk membuka hati, mencerahkan kalbu mereka, baik disadari maupun tidak disadari oleh mereka, dengan cahaya Hakikat dari Hakikat Ke-Esa-an Ilahi."

Di suatu hari Sabtu, tanggal 2 Rajab 802 H, Syaikh Ala'uddin qs berkata, "Aku akan meninggalkan kalian menuju kehidupan yang lain dan tak seorang pun yang dapat menghentikan Aku." Beliau wafat pada hari Rabu, tanggal 20 Rajab 802 H/26 Maret 1400 Masehi dan dimakamkan di Jaganyan, salah satu kota di Bukhara, sekarang terletak di wilayah negara Uzbekistan, Asia Tengah.

Beliau meneruskan rahasia ilmunya kepada satu di antara sekian banyak khalifahnya (deputinya), yaitu Syaikh Ya'qub al-Jarkhi qs.

Semoga Allah SWT menjaga rahasia ilmu Ala'uddin al-Bukhari al-'Aththar qs. dan memberinya kedamaian.



Ahmad al Rifa’i

Ahmad al Rifa’i
Jalur Keturunan

Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Sayyid Ahmad bin Sayuid Abul Hasan Ali al Rifai al Husaim, beliau di lahirkan di desa Hasan di Iraq pada tahun 512 H. Beliau dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Rifa’ah al Maghribi al Husaini.

Kehidupan Ahmad Rifa’i.

Sejak, berusia 7 tahun, sudah hidup sebagai anak yatim karena ditinggal mati oleh ayahnya, dan beliau dirawat oleh pamannya yang bernama Manshur al Batha ini seorang ahli tarekat, oleh karena sejak kecil Al-Riafa’I sudah hidup dilingkungan keluarga yang taat beragama.

Disamping beliau banyak menerima pendidikan dasar-dasar agama dari kakeknya. Beliau juga belajar ilmu agama kepada Ulailla’ terkenal seperti Abut Fadlil al Wasithi al Manshur dan juga kepada ummu Ubaidah. Karena kesungguhan dan ketekunan begitu dalam menerima ajaran dari para ulama’ sehingga beliau banyak menerima ilmu dari para gurunya.

Setelah beliau merasa cukup dengan ilmu yang diperoleh dari gurunya. Lalu beliau meneruskan perjalanan hidupnya dengan membuka lembaran baru yaitu mengamalkan ajaran tasawuf kepada murid dan pengikutnya yang banyak. Diantara murid-muridnya yang terkenal dan berhasil dengan baik, seperti:
  1. Syarifuddin bin Abdul Sami’al al Hasm al Wasithi yang menulis kitab berjudul “Jama’a Asrar at Syari’an wa al Haqiqah wa al Tariqah atau yang lebih terkenal dengan at Burhan.
  2. Ali bin Jamal Al Hadad, yang menulis kitab berjudul “Rabi’alal Asyiqin”.
  3. Taqiyyudin al Thusi yang menulis kitab berjudul Tiryaq al Mujib.
  4. Al-Fariq al Wasithi yang menulis kitab dengan judul Al Nafkhat al Miskiyah”.
  5. Ali Al Wasithi menulis karya “Khulashat al Ikhsir”.
  6. Ahmad Izzat al Faruqi yang menulis karya berjudul Al Uqud al Jauhariyah”.

Keistimewaan Al Rifa’i

Sebagai seorang sufi ada beberapa keistimewaan dan kelebihan yang dimiliki oleh Al Rifa’i, antara lain:
  1. Beliau adalah seorang murid Abul Fadlil yang mendapat ijazah dan mendapat khirqah, sufi dari Al Manshur dan dari Ummu Ubaidah.
  2. Beliau adalah termasuk Ulama’ yang disegani dalam dunia tasawuf dan beliau mendapat gelar Quthub dan al Ghaus.

Pokok-Pokok Pikiran Al Rifa’i

Sebagai seorang sufi yang mempunyai murid dan pengikut yang banyak ada beberapa pokok pikiran yang dikembangkan oleh Al Rifa’i. Diantaranya:
  1. Asaz Pertama dan Utama dalam ajaran tasawuf adalah kepatuhan dan ketaatan dalam mengamalkan syariat islam, dengan jalan melaksanakan perintah-perintah Allah dan Sunnah Rasulullah secara benar dan sungguh-sungguh dan tidak sesuai dengan aturan Al-Quran dan As Sunnah segera ditinggalkan.
  2. Akhlak sufi; yang dikembangkan oleh Al Rifa’I adalah akhlak yang harmonis antara akhlak batin dan akhlak lahir, baik perkataan, perbuatan atau keadaan dalam perjalanan menuju Tuhan.
  3. Untuk menumbuhkan akhlak yang sempurna, maka lebih dulu harus ditanamkan dasar-dasar akidah tauhid. Dasar ini ditanamkan untuk memantapkan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak di sembah di sembah dan dimintai pertolongan.
  4. Menurut Al Riaf’i ajaran tasawuf bukan hanya teori-teori yang indah tetapi juga harus, dilaksanakan dengan intensif dan diamalkan dengan disiplin yang ketat sebagaimana ketentuan yang harus dilaksanakan oleh murid-muridnya antara lain :
1. Setiap tahun sekali mengadakan khalwat selama 7 (tujuh) hari dengan diisi kegiatan sebagai berikut :

Pada hari pertama diisi dengan, dzikir sambil mengucapkan lafal La Ilaha Illallah”.
Hari kedua dengan dzikir dan membaca “Ya Allah”.
Hari ketiga diisi dengan dzikir membaca “Ya Wahhab”
Hari keempat diisi dengan dzikir dan membaca “Ya Hayyu”
Hari kelima diisi dengan dzikir dan membaca “Ya Mujib”
Hari keenam diisi dengan dzikir dan membaca “Ya Mu’thil”
Hari ketujuh diisi dengan dzikir dan membaca “Ya Quddus”.
Jumlah dzikir setiap harinya tanpa ada batas.

2. Al Rifa’i memiliki Hizb al Tuhfat al Saniyah yang dapat dibaca pada waktu-waktu tertentu, dan juga mempunyai wirid-wirid pada yang dapat di baca pada waktu malam Jum’at dan malam Senin.

3. Pada acara pertemuan keluarga dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan membaca surat Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al-A’la, Al-Qadar, Al-Nashr, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas kemudian ditutup dengan surat Al-Fatihah kembali. Setelah membayar ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan membaca shalawat dan syair-syair pujian kepada Rasulullah yang diiringi, dengan tabuhan rebana dan gendang.

Wafatnya

Beliau meninggal dunia dengan tenang di desa Ummu-Ubaidah satu kawasan antara al Wasith dan Basrah pada tahun 571 H.


Syeikh Abul Hasan As Syadzily

Jalur Keturunan.
Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabar yang banyak dikenal orang dengan nama al Syazili, beliau dilahirkan di Ghammarah Moroko pada tahun 593 H. Sebutan Al Syazili bagi bagi dirinya karena beliau banyak menempuh kehidupannya untuk memperdalam ilmunya di daerah Syazili.

Kehidupan Al Syazili.
Abul Hasan Al Syazili masih mempunyai hubungan keturunan dengan Rasulullah melalui Fatimah al Zahra, dan dari keturunan yang bagus itu sudah Nampak pada diri Al Syazili sejak usia muda sampai tua, dengan budi pekerti yang terpuji hidup sederhana dan suci sepanjang hayatnya.

Pada awal masa kecilnya beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar agama kemudian juga mendapat bekal pendidikan dari guru kerohaniannya yang bernama Abdul Salam bin Masyisy seorang ulama’ besar dari Maroko. Setelah dibekali ilmu yang cukup oleh gurunya lalu beliau dikirim oleh gurunya pergi ke Tunisia dan tinggal di Syazilia.

Abul Salam Al Masyisy, memandang ada kelebihan dan keistimewaan yang Nampak pada diri Al Syazili, sehingga dikirimlah beliau di Tunisia untuk mengembangkan ilmu yang telah dimiliki. Namun perintah gurunya ini tidak diketahui alasannya, mengapa mengirim Al Syazili ke Tunisia, tapi sebagai murid yang taat pada gurunya beliau melaksanakan perintah gurunya yang sangat dicintainya.

Kepergian beliau ke Syazili ini merupakan awal dari pengembaraannya, karena setelah lama, beliau tinggal di Syazilia kemudian beliau pindah ke Mesir dan tinggal di Iskadariyah sampai meninggal dunia.

Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Syazili banyak diperoleh ketika beliau tinggal di Tunisia, karena ditempat ini beliau banyak bertemu dengan para ulama’ terkenal dan melakukan diskusi dengan ilama’-ulama’ yang ditemui. Kedatangan beliau di Syazili ini mendapat sambutan yang luar biasa dan setiap hari mereka selalu mengerumuni al Syazili. Untuk menghindari kerumunan penggemarnya, maka beliau ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah al Habibi untuk mengasingkan diri di daerah pegunungan yang bernama Zagwan. Dan di daerah ini beliau mengkhususkan diri dengan beribadah, membersihkan jiwa, menyatukan kehendak dan kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah beliau berkhalwat dari Gunung Zagwan tersebut, lalu beliau kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan dakwah dan pelajaran. Namun kembalinya al Syazili ketengah-tengah, masyarakat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para sufi dan para pejabat pemerintah. Namun dari kalangan pejabat ini beliau banyak mendapat tantangan karena adanya fitnah dari ulama’ fiqh, namun beliau selalu terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Setelah mendapat tantangan dan fitnah dari ahli fiqh, akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke Mesir dan menetap di Iskandariyah.

Selama tinggal di Tunisia, beliau banyak berdiskusi dan berdialog dengan tokoh sufi, seperti Syekh Abul Hasan Ali Ibnu Makhiuf al Suazli Abu Abdullah al Shabuni Abu Muhammad Abdul Aziz al Paituni, Abu Abdillah at Binai at rayyah dan Abu Abdillah al Jarihi.

Disamping beliau banyak berdialog dengan para ulama’ beliau juga mendirikan majlis pengajian yang banyak dihadiri oleh para ulama’ diantara para ulama yang hadir dalam majlis pengajiannya adalah Izzudin bin Abdul Salam, Taqyyudin ibnu Daqiqiid, Abut Adzim al Munziri, Ibnu Shaleh, Ibnu Hajib, Jamaluddin Usfur, Nabihuddin bin Auf, Muhyiddin bin Suradah, Ibnu Yasin dan lain-lain.

Keistimewaan Al Syazili.
Sebagai seorang sufi ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Al Syazili, diantaranya adalah :
  1. Sebagai seorang yang mempunyai jalur keturunan dengan Rasulullah, ada beberapa titisan warisan yang ada pada diri Al Syazili, diantaranya kewalian. Syazili sudah Nampak dan diraskan oleh gurunya, sehingga beliau dikirim ke Tunisia.
  2. Beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah dan diperintah untuk pindah ke Mesir membina 40 orang wali yang sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya mimpi tersebut dilaksanakan dan beliau pindah dari Tunisia ke Mesir dan tinggal di Iskandariyah.
Pokok-Pokok Pikiran Al Syazili.
Ada beberapa pokok pikiran yang dikembangkan Al Syazili, diantaranya adalah :
  1. Seseorang yang ingin mendalami ajaran Tasawuf, maka harus terlebih dahulu mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
  2. Pelajaran tasawuf Al Syazili yang diajarkan kepada murid-muridnya diambil dari 7 kitab yang penting diantaranya adalah :
  • Kitab Khatam al auliyah karya al Hakim al Tarmizi, kitab ini banyak menguraikan tentang masalah kewalian (wilayat) dan kenabian (nubuwwat).
  • Kitab al Mawaqiif Wa al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbat an Niffari. Menurut pengarangnya kitab ini ditulis berkat pemberian Tuhan tatkala pengarangnya sedang berkhalwat (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah). Dan kitab ini juga menguraikan tentang kerinduan seorang sufi kepada Tuhannya.
  • Kitab Qutub Qulub karya abu thalib al Makki. Kitab ini ditulis menurut acuan syara’ dengan uraian-uraian dan pandangan-pandangan sufi hingga syariat dan hakikat sejalan dan bersatu.
  • Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini ditulis dengan memadukan antara syariah dan tasawuf.
  • Kitab At Syifa’ karya Qadhi ‘Iyadh. Kitab ini oleh al Syazili dipergunakan untuk mengambil berkah dan juga mengambil sumber syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang ahli fiqh.
  • Kitab Ar Risalah karya Imam Qusyairi. Kitab ini dipergunakan oleh Al Syazili sebagai permulaan dari dalam pengajaran tasawufnya.
  • Kitab Ar Muharrar al Wajiz. Karya Ibnu Athiah. Kitab ini diuraikan oleh Syazili untuk melengkapi pengetahuan dalam pengajian.
3.Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka beribadah dan menempatkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi.

Wafatnya Al Syazili.
Beliau meninggal dunia di Iskadariyah pada tahun 656 H.






English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
www.aswajanu.com
Iklan Banner

Donasi

 
Diizinkan Dicopy & Disebarkan Untuk Dakwah | Cantumkan www.mistikuscinta.com
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
The Official Blog Of Mistikus Cinta: Mozaik Sufi | SufiTube | Proudly powered by Mistikus Cinta G+
Copyright © 2005. Mistikus Cinta - All Rights Reserved