Recent Post

Syeikh Khaliqul Idrus


Syeikh Khaliqul Idrus adalah seorang muballigh Parsi yang berdakwah di Jepara. Menurut suatu penelitian, ia diperkirakan adalah Syeikh Abdul Khaliq, dengan laqob Al-Idrus, anak dari Syeikh Muhammad Al-Alsiy yang wafat di Isfahan, Parsi.

Syeikh Khaliqul Idrus di Jepara menikahi salah seorang cucu Syeikh Maulana Akbar yang kemudian melahirkan Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus kemudian menikahi salah seorang putri Majapahit hingga mendapat gelar Wong Agung Jepara. Pernikahan Raden Muhammad Yunus dengan putri Majapahit di Jepara ini kemudian melahirkan Raden Abdul Qadir yang menjadi menantu Raden Patah, bergelar Adipati Bin Yunus atau Pati Unus. Setelah gugur di Malaka 1521, Pati Unus dipanggil dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.


Syeikh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati) Cirebon

Syeikh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati) Cirebon
Syeikh Datuk Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih markas di pelabuhan Muara Jati, yaitu kota Cirebon sekarang. Ia bernama asli Idhafi Mahdi.

Majelis pengajiannya menjadi terkenal karena didatangi oleh Nyai Rara Santang dan Kian Santang (Pangeran Cakrabuwana), yang merupakan putra-putri Nyai Subang Larang dari pernikahannya dengan raja Pajajaran dari wangsa Siliwangi. Di tempat pengajian inilah tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syeikh Maulana Akbar Gujarat.

Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Makam Syeikh Datuk Kahfi ada di Gunung Jati, satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati.

Syekh Datuk Kahfi adalah tokoh perintis dakwah Islam di wilayah Cirebon. Beliau menggunakan nama Syekh Nurjati pada saat berdakwah di Giri Amparan Jati, yang lebih terkenal dengan nama Gunung Jati, sebuah bukit kecil dari dua bukit, yang berjarak + 5 km sebelah utara kota Cirebon, tepatnya di desa Astana Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon.

Sebelumnya Syekh Nurjati dikenal dengan nama Syekh Datuk Kahfi atau Maulana Idhafi Mahdi. Secara kronologis singkat, Syekh Nurjati lahir di Semenanjung Malaka. Setelah berusia dewasa muda pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu dan berhaji. Syekh Nurjati pergi ke Baghdad dan menemukan jodohnya dengan Syarifah Halimah serta mempunyai putra-putri. Dari Baghdad beliau pergi berdakwah sampai di Pesambangan, bagian dari Nagari Singapura (sekarang Desa Mertasinga, Kabupaten Cirebon). Beliau wafat dan dimakamkan di Giri Amparan Jati.

Cerita tentang Syekh Nurjati dijumpai dalam naskah-naskah tradisi Cirebon yang merupakan bukti sekunder. Naskah-naskah tersebut berbentuk prosa, diantaranya : Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda dan Sejarah Cirebon. Serta naskah yang berbentuk tembang di antaranya Carub Kanda, Babad Cirebon, Babad Cerbon terbitan S.Z. Hadisutjipto, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Pulasaren. Dari sekian banyak naskah hanya naskah Babad Cirebon terbitan Brandes saja yang tidak memuat tentang Syekh Nurjati. Sedangkan naskah tertua yang menulis tentang Syekh Nurjati dibuat oleh Arya Cerbon pada tahun 1706 M.


Referensi:
  • Diambil dari beberapa sumber
  • Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Syeikh Quro

Syeikh Quro adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu pesantren Quro di Tanjungpura, Karawang pada tahun 1428.

Nama aslinya Syeikh Quro ialah Hasanuddin. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) asal Mekkah, yang berdakwah di daerah Karawang. Ia diperkirakan datang dari Champa atau kini Vietnam selatan. Sebagian cerita menyatakan bahwa ia turut dalam pelayaran armada Cheng Ho, saat armada tersebut tiba di daerah Tanjung Pura, Karawang.

Syeikh Quro sebagai guru dari Nyai Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa penguasa Cirebon. Nyai Subang Larang yang cantik dan halus budinya, kemudian dinikahi oleh Raden Manahrasa dari wangsa Siliwangi, yang setelah menjadi raja Kerajaan Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Pangeran Kian Santang yang selanjutnya menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Makam Syeikh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang.


Karawang pada masa Islam juga merupakan kawasan penting. Pelabuhan Caravam yang sudah eksis sejak masa Kerajaan Sunda tampaknya terus berperan hingga masa Islam. Salah satu situs arkeologi dari masa Islam di Karawang adalah makam Syeikh Quro. Menurut tulisan yang tertera pada panil di depan komplek makam, Nama lengkap Syeikh Quro adalah Syeikh Qurotul Ain. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syeikh Quro adalah seorang ulama yang juga bernama Syeikh Hasanudin. Beliau adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syeikh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syeikh Jamaluddin serta Syeikh Jalaluddin ulama besar Mekah. Pada tahun 1418 datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon.

Tidak lama di Muara Jati, kemudian pergi ke Karawang dan mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa letak bekas pesantren Syeikh Quro berada di Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari, Karawang. Di Karawang dikenal sebagai Syeikh Quro karena beliau adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syeikh Quro datang di Jawa pada 1416 dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan. Armada tersebut membawa rombongan prajurit 27.800 orang yang salah satunya  terdapat seorang ulama yang hendak menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Mengingat Cheng Ho seorang muslim, permintaan Syeikh Quro beserta pengiringnya menumpang kapalnya dikabulkan. Syeikh Quro beserta pengiringnya turun di pelabuhan Karawang, sedangkan armada Cina melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Di Karawang pada tahun 1338 Saka (1416 M) mendirikan pesantren di Pura Dalem, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al Quran. Syeikh Quro adalah penganut Mahzhab Hanafi, yang datang bersama anak angkat bernama Syeikh Bentong alias Tan Go. Dari istrinya yang bernama Siu Te Yo  mempunyai seorang putri diberi nama Sie Ban Ci. Syeikh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari dan lahir Syeikh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Setelah melakukan Islamisasi di Karawang Syeikh Quro kemudian menjalani hidup menyendiri di Kampung Pulobata, Pulokalapa. Di kampung ini beliau melakukan uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kesempurnaan hidup. Demikian ini beliau lakukan hingga akhir hayat.

Makam Syeikh Quro ditemukan oleh Raden Sumareja (Ayah Jiin) dan Syeikh Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Mungkin karena ditemukan pada hari Sabtu maka hingga sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam ini berada di pemukiman penduduk Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang tepatnya pada koordinat 06° 15' 101" Lintang Selatan dan 107° 28' 900" Bujur Timur.

Komplek makam berada pada lahan seluas 2.566 m2 yang batas-batasnya sebelah utara pemukiman, timur, selatan, dan barat berupa sawah. Komplek makam ini berada di sebelah selatan jalan desa. Sebelum memasuki komplek makam terdapat halaman yang sangat luas berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan para peziarah. Di pinggir halaman parkir ini terdapat deretan warung yang menyediakan makanan serta benda-benda untuk keperluan ibadah seperti tasbih, peci, mukena, baju koko, dan kitab. Selain di pinggir lahan parkir, sebetulnya sudah disediakan tempat khusus untuk berjualan yang mirip pasar tradisional. Lahan tempat berjualan ini terletak di sebelah timur komplek makam. Aktivitas berjualan kelihatan hidup pada setiap hari Jumat malam hingga Sabtu, karena pada hari itu merupakan hari puncak pelaksanaan ziarah.

Komplek makam bagian depan diberi pembatas pagar tembok berwarna hijau. Bentuk arsitektur pagar tembok tersebut melengkung dengan jarak lengkungan tertentu sehingga terbentuk beberapa puncak lengkungan. Pada setiap puncak lengkung pagar dihias dengan semacam kubah masjid. Sisi-sisi lengkungan pagar berhias kaligrafi. Gerbang masuk bagian atasnya juga melengkung, tetapi lengkungannya merupakan kebalikan dengan lengkung pagar.

Di sebelah barat gerbang masuk terdapat salah satu dari tujuh sumur keramat yang berada di komplek makam. Di sebelah timur gerbang masuk bagian dalam terdapat panil peringatan penemuan komplek makam. Pada panil peringatan tersebut juga tertulis pesan Syeikh Quro yang berbunyi: “Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”.

Di halaman dalam komplek makam terdapat masjid dan cungkup makam Syeikh Quro. Sebagai objek yang bersifat living monument, semua bangunan di komplek makam ini selalu berkembang mengikuti situasi. Bangunan cungkup makam Syeikh Quro sebagai bangunan inti merupakan bangunan baru, terbagi tiga bagian. Bagian depan merupakan bagian terbuka, bagian tengah merupakan ruangan untuk berdoa, dan bagian dalam tempat makam Syeikh Quro. Para peziarah tidak diperkenankan memasuki ruangan makam Syeikh Quro, peziarah cukup sampai di depan pintu ruangan. Didepan pintu tersebut terdapat beberapa benda untuk ziarah seperti tempat pembakaran kemenyan, beberapa plastik tempat air mineral yang berisi air dari sumur keramat, dan kotak kayu tempat shodaqoh. Jirat makam berukuran 2,70 x 2,25 m. Nisan terbungkus kain putih. Tinggi nisan 85 cm. Di samping cungkup makam terdapat salah satu sumur keramat yang dinamakan sumur awisan. Sumur tersebut berdiameter 1 m.

Sumber : Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Barat

Syeikh Maulana Akbar

Syeikh Maulana Akbar adalah adalah seorang tokoh di abad 14-15 yang dianggap merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama lainnya ialah Syeikh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, dan ia kemungkinan besar adalah juga tokoh yang dipanggil dengan nama Syeikh Jumadil Kubro, sebagaimana tersebut di atas. Hal ini adalah menurut penelitian Martin van Bruinessen (1994), yang menyatakan bahwa nama Jumadil Kubro (atau Jumadil Qubro) sesungguhnya adalah hasil perubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa.

Silsilah Syeikh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dari Nabi Muhammad SAW umumnya dinyatakan sebagai berikut: Sayyidina Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Jalal Syah, dan Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).

Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syeikh Maulana Akbar ini. Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.

Penulis asal Bandung Muhammad Al Baqir dalam Tarjamah Risalatul Muawanah (Thariqah Menuju Kebahagiaan) memasukkan beragam catatan kaki dari riwayat-riwayat lama tentang kedatangan para mubaligh Arab ke Asia Tenggara. Ia berkesimpulan bahwa cerita rakyat tentang Syeikh Maulana Akbar yang sempat mengunjungi Nusantara dan wafat di Wajo, Makasar (dinamakan masyarakat setempat makam Kramat Mekkah), belum dapat dikonfirmasikan dengan sumber sejarah lain. Selain itu juga terdapat riwayat turun-temurun tarekat Sufi di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa Syeikh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan di Cirebon, meskipun juga belum dapat diperkuat sumber sejarah lainnya.


Sayyid Jumadil Kubro



Silsilah
Sayyid Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama (Waliyullah) yang memiliki karomah cukup besar. Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW. Hal ini dapat kita lihat dari silsilah berikut : Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udada bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nukh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam. Beliau dilahirkan pada tahun 1349 M di sebuah daerah di kota Samarkhand, dekat kota Bukhoro yang merupakan wilayah Negara Azarbaijan (Negara bekas kekuasaan Uni Sovyet).

Di sana beliau di didik dan dibesarkan oleh ayahanda Sayyid Zainul Khusen, sampai akhirnya beliau menikah dan dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah :

1. Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
2. Maulana Iskha’
3. Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum

Datang Ke Chempa
Pada sekitar tahun 1399 M. sayyid Jumadil Kubro datang ke Chempa. Chempa adalah nama sebuah kerajaan yang berada di wilayah Negara Muangthai. Kedatangan beliau ke sana bertujuan untuk berdakwah sambil berdagang selain juga bersilaturahmi menemui putra dan cucu beliau.

Di Chempa (Muangthai) sebelumnya telah ada kegiatan dakwah Islam yang dilakukan sejak tahun 1395 M oleh Maulana Ibrahim yang beliau adalah putra dari Sayyid Jumadil Kubro, sehingga tugas Sayyid Jumadil Kubro adalah mengembangkan dan meningkatkan pemahaman ajaran Islam, termasuk Raja Chempa yang bernama Kuntoro. Sayyid Ibrahim (putra dari Sayyid Jumadil Kubro) menikah dengan Dewi Candrawulan yang merupakan putrid Kuntoro (Raja Chempa). Dari perkawinan itu, beliau dikaruniai dua putra yaitu :

1. Sayyid Ali Rahmatullah (yang sekarang kita kenal dengan sebutan Sunan Ampel)
2. Sayyid Ali Murtadho atau disebut Raja Pandito (beliau bertempat tinggal di kerajaan Chempa bersama Raja Kuntoro)

Datang Pertama Ke Pulau Jawa
Setelah tugas-tugas Sayyid Jumadil Kubro di Chempa selesai maka beliau meneruskan perjalanannya berdagang dan berdakwah ke pulau Jawa, beliau datang abad ke 14 atau tepatnya pada tahun 1399 M. Kegiatan dakwah beliau banyak dilakukan dilingkungan kerajaan karena barang-barang dagangan beliau lebih banyak diminati dan dibutuhkan oleh keluarga kerajaan atau kaum bangsawan yakni berupa emas, intan zamrud, dan lain sebagainya, termasuk ketika di Pulau Jawa beliau memilih sasaran kegiatan dakwahnya di lingkungan kerajaan Majapahit yang dipandangnya sebagai kerajaan Hindu terbesar di Jawa bahkan di Nusantara pada masa itu.

Dalam perjalanan dakwah dan dagangnya ke pulau Jawa, Sayyid Jumadil Kubro merasakan banyak kesulitan dalam melakukan kegiatan menyiarkan dan mengembangkan agama Islam. Hal ini diantaranya disebabkan karena masih kuatnya pengaruh ajaran agama Hindu serta Budha yang disukung besarnya pengaruh kerajaan saat itu. Kepercayaan Animisme (pemuja roh-roh nenek moyang) misalnya, serta kepercayaan Dinamisme (pemuja benda-benda yang dianggap keramat) merupakan hambatan tersendiri di dalam mengembangkan ajaran Islam, sehingga masyarakat pada masa itu sangat sulit untuk dimasuki ajaran Islam.

Terlebih lagi dengan maraknya pemujaan-pemujaan pada roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap punya keramat atau kekuatan gaib, ini mendatangkan dukungan kekuatan Ïstidraj”dari jin, setan, genderuwo dan sebangsanya banyak dilakukan oleh masyarakat pada masa itu, sehingga kebanyakan wilayah di pulau Jawa menjadi daerah yang angker karena kuatnya kekuasaan gaib jin, setan dan sejenisnya.

Situasi yang demikian ini menjadikan sulitnya Sayyid Jumadil Kubro dalam mengembangkan kegiatan dakwahnya. Beliau hanya sempat melakukan kegiatan dakwah dan perdagangan dari lingkungan kerajaan Hindu satu ke lingkungan kerajaan lainnya yang kegiatan itu pun secara sembunyi-sembunyi. Tentunya hasil yang dicapai jelas sangat tidak mengembirakan. Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan-kerajaan besar seperti Mojopahit, Pajajaran dan Mataram yang kala itu menganut ajaran Hindu serta kemurkaan kekuatan-kekuatan gaib (Istidraj) dari bangsa jin, setan dan sejenisnya.

Kesulitan Sayyid Jumadil Kubro di dalam mengembangkan ajaran Islam di pulau Jawa agak berkurang setelah beliau bertemu dengan seorang Tumenggung Mojopahit yang bernama Tumenggung Satim Singomoyo. Karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bias diajak musyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Kala itu beliau sudah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan.

Hanya Tumenggung Satim Singomoyo lah yang bias diajak bertukar pendapat tentang bagaimana cara mengembangkan ajaran Islam ditanah Jawa utamanya di lingkungan kerajaan yang masyarakatnya kala itu sudah sangat terpengaruh dengan ajaran Hindu dan Budha.

Alhamdulillah, dengan keberadaan Tumenggung Satim Singomoyo, akhirnya sedikit demi sedikit masyarakat Mojopahit memeluk Islam, termasuk yang berada di lingkungan kerajaan. Walaupun hal ini masih dinilai kurang memuaskan. Setelah beliau wafat, beliau dimakamkan disebuah tempat yang sekarang menjadi satu dengan makam Sayyid Jumadil Kubro. Makam beliau diberi tanda tanaman pohon jati. Namun setelah pohon jati itu besar tumbuhlah pohon apak dan beringin yang membalut pohon jati tersebut sehingga yang kelihatan hanya pohon apak dan beringin. Hingga sekarang pohon tersebut masih hidup.

Melawan Penguasa Dan Kekuatan Gaib
Besarnya pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Mojopahit yang saat itu berada pada punack kejayaan di bawah kepemimpinan Raja hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada sangatlah besar dan luas tidak hanya dalam lingkungan masyarakat Mojopahit saja, namun sudah hampir mencakup seluruh wilayah Nusantara sebagaimana tekad Patih Gajah Mada yang sangat terkenal dengan sumpahnya “Amukti Palapa”.

Kemasyhuran dan kejayaan kerajaan Mojopahit ini dikenal bahkan sampai terkenal ke luar negeri, seperti halnya kerajaan Tiongkok, Chempa dan sebagainya, yang hal ini juga dibuktikan dengan adanya hubungan perkawinan antara salah seorang putri Chempa (Dewi Dwarawati) kakak Candra Wulan dengan salah seorang Raja Majapahit (Brawijaya I atau Raja Kertawijaya). Ditambah lagi dengan banyaknya kekuatan gaib baik jin, setan dan sejenisnya.

Dalam situasi yang demikian dan dari hasil pengamatan Sayyid Jumadil Kubro akhirnya beliau menyimpulkan bahwa untuk mengembangkan Islam dan melakukan dakwah pada masyarakat Jawa harus digunakan strategi atau cara yang dapat mempengaruhi penguasa kerajaan serta mengurangi dan mengalahkan pengaruh kekuatan gaib yang membuat hampir seluruh wilayah pulau Jawa menjadi angker.

Menyusun Kekuatan
Kuatnya pengaruh kerajaan Hindu Mojopahit maupun pengaruh keangkeran daerah-daerah di pulau Jawa tersebut, dirasakan Sayyid Jumadil Kubro sebagai sebuah tantangan dakwah yang harus dihadapi, namun untuk menghadapi tantangan penyiaran agama Islam yang sangat kuat tersebut, beliau merasakan kurang kuat jika dilakukan hanya dengan seorang diri.

Oleh karenanya, pada sekitar 1404 M Sayyid Jumadil Kubro meninggalkan pulau Jawa untuk kembali ke kampong halamannya di Samarkhan Azarbaijan dengan maksud melaporkan temuan dan pengalaman dari apa yang telah beliau lakukan di Pulau Jawa kepada kekhalifahan Islam Turki Sultan Muhammad I sekaligus beliau mengusulkan untuk segera menyusun kekuatan dakwah yang akan ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam ke Pulau Jawa.

Pembentukan Wali Songo
Dalam pertemuannya dengan Sultan Muhammad I (Raja Turki) saat itu, Sayyid Jumadil Kubro mengusulkan agar Sultan Muhammad I mengundang beberapa Ulama dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang memiliki karomah besar untuk diajak musyawarah membahas kegiatan dakwah Islam dan pengembangannya di Pulau Jawa.

Setelah mendengar dan memperhatikan cerita pengalaman dan temuan Sayyid Jumadil Kubro tentang situasi dan keadaan agama Islam di daerah Pulau Jawa, Akhirnya disepakati bahwa untuk melakukan kegiatan dakwah ke Pulau Jawa ditunjuk dan ditugaskan 9 (Sembilan) orang Ulama (Auliya’) dengan berbagai keahliannya masing-masing. Sembilan orang itu akan dibagi jadi tiga bagian, Jawa Timur tiga orang Ulama, Jawa Tengah tiga orang Ulama, Jawa Barat tiga orang Ulama, dengan masa bhakti satu abad (seratus tahun) apabila terjadi ada yang wafat atau pindah dari Pulau Jawa harus mengadakan rapat untuk mencari penggantinya. Kesembilan Ulama tersebut selanjutnya dilembagakan dan ditetapkan dengan sebutan WALI SONGO yang untuk pertama kalinya beranggotakan Sembilan Ulama, beliau-beliau adalah :

1. Maulana Malik Ibrahim
Ulama dari Turki, ahli Tata Negara dan pengobatan, beliau berdakwah di Jawa Timur, Wafat di Gresik - Jawa Timur, 1419 M.

2. Maulana Ishak

Ulama dari Samarkhan beliau putra dari Sayyid Jumadil Kubro, ahli pengobatan, berdakwah di Jawa Timur, setelah tugas di Blambangan Banyuwangi beliau pindah ke Pasai. Menurut KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) beliau wafat dan dimakamkan di Jombang, di Jl. Garuda Dusun Tambakberas Desa Tambakrejo Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang (Jawa Timur).

3. Maulana Jumadil Kubro
Ulama dari Samarkhan Azarbaijan, ahli militer dan beliau terkenal sebagai orang sakti, berdakwah di lingkungan kerajaan Majapahit, wafat di Troloyo Mojokerto tahun 1465 M.

4. Maulana Ahmad al Maghroby (Sunan Geseng)
Ulama dari Maroko Afrika Utara, beliau terkenal sebagai orang yang kuat dan sakti berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Mojopahit dan dimakamkan di Pesantrennya Jati Anom Klaten tahun 1465 M.

5. Maulana Malik Isroil
Ulama dari Turki ahli mengatur Negara, berdakwah di Jawa Tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar
Ulama dari Persia (Iran) ahli pengobatan dan pertanian, berdakwah di Jawa tengah, wafat di daerah Gunung Santri Cilegon Jawa Barat tahun 1435 M.

7. Maulana Hasanuddin
Ulama dari Palestina, berdakwah di Jawa Barat dan beliau terkenal sebagai orang sakti, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.

8. Maulana Alayuddin
Ulama dari palestina, berdakwah di Jawa Barat, wafat tahun 1462 M, dimakamkan di samping Masjid Banten Lama.

9. Syekh Subakir
Ulama dari Persia (Iran) ahli supranatural (tumbal tanah) angker/mengusir jin, setan, genderuwo dan sebagainya), tugasnya di Pulau Jawa, beliau kembali ke negerinya Persia tahun 1462 M setelah selesai tugasnya.

Dari Sembilan Ulama (Wali Songo) generasi pertama ini yang ditunjuk sebagai pemimpin atau Mufti adalah Maulana malik Ibrahim yang bertempat tinggal di Gresik.

Sembilan Ulama Wali Songo diberangkatkan oleh Sultan Muhammad I dari Turki ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M dengan mengendarai kapal dagang dan membawa barang dagangan yang diperkirakan laku diperdagangkan di Pulau Jawa.

Datang Di Pulau Jawa Yang Kedua
Untuk kedua kalinya Sayyid Jumadil Kubro datang di pulau Jawa bersama-sama dengan rombongan 9 (Sembilan orang Ulama yang sudah terorganisir dalam suatu lembaga dakwah WALI SONGO kedatangan Wali Songo ini membuat semakin geram dan galaknya kekuatan-kekuatan gaib yang selama ini menguasai Pulau Jawa. Semakin mengamuknya keangkeran jin, setan, dan makhluk sejenisnya disebabkan karena kekhawatiran akan hilangnya pengaruh dan berkurangnya pemuja-pemuja mereka, sebab kehadiran dan kegiatan dakwah para ulama wali songo yang akan berlawanan dengan apa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat yang ada di Pulau Jawa yakni memuja jin, setan dan lain sebagainya.

Memasang Tumbal Di Pulau Jawa
Melihat situasi keangkeran pulau Jawa yang semakin menjadi-jadi, Syeikh Maulana Malik Ibrahim selaku Mufti Wali Songo yang pertama ini memberikan tugas kepada Syeikh Subakir salah satu anggota Wali Songo yang ahli dalam bidang metafisika (ahli mengusir jin, setan, genderuwo dan sejenisnya) untuk segera melakukan tugasnya memasang tumbal pada daerah-daerah angker di Pulau Jawa sehingga dapat melumpuhkan kekuatan-kekuatan gaib (kekuatan istidraj) yang selama ini menguasai pulau Jawa.

Setelah Syeikh Subakir memasang tumbal di puncak gunung tidar, lalu pada daerah-daerah angker dan rawan pengaruh kekuatan gaib, selanjuntnya Sayyid Jumadil Kubro beserta sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Wali Songo segera membagi tugas dakwahnya di beberapa wilayah pulau Jawa dengan agak mudah dan leluasa karena tidak lagi berhadapan dengan kekuatan gaib bangsa makhluk halus.

Sayyid Jumadil Kubro sendiri dalam pembagian tugas ini memilih wilayah dakwah di lingkungan kerajaan Mojopahit yang menurut pengamatannya merupakan kerajaan terbesar dan paling berpengaruh bagi kehidupan banyak kerajaan dan penduduk di pulau Jawa. Di samping itu Sayyid Jumadil Kubro sudah memiliki jalur masuk lingkungan kerajaan Mojopahit saat itu, karena istri raja Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) yakni Dewi dwarawati atau disebut Darawati Murdaningrum putrid Raja Chempa adalah adik kandung dari menantu beliau Dewi Chandrawulan diperistri putra beliau Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi (orang tua Sunan Ampel Surabaya)

Perang Saudara
Kerajaan Mojopahit setelah wafatnya Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk sekitar abad 14 mulai surut pamor dan kejayaannya. Peperangan saudara antara Wikramawardhana dengan Wirabumi mengakibatkan melemahnya kendali pusat pemerintahan kerajaan Mojopahit. Penduduk Mojopahit terutama dari Kasta Sudra dan Waisya (golongan masyarakat buruh dan petani dalam agama Hindu) yang selama ini menempati derajat rendah dan hina mulai mengalami pembangkangan dan pemberontakan jiwa dan naluri kemanusiaan mereka merasa tidak dapat menerima adanya perbedaan-perbedaan derajat manusia hanya karena nasib pekerjaan dan mata pencahariannya.

Kondisi yang demikian ini sangat menguntungkan bagi penyebaran agama Islam yang menjadikan pesatnya penyiaran agama Islam. Yang pada ajaran Islam mengajarkan persamaan harkat, martabat dan derajat manusia. Ajaran ini menjadi berkembang, utamanya dikalangan masyarakat petani, nelayan, buruh dan pegawai kerajaan. Perlahan tapi pasti, masyarakat kelas bawah (dalam andangan Hindu) mulai berbondong-bondong memeluk agama Islam, mengikuti ajaran-ajaran Wali Songo yang dengan bijak dan santun menyampaikan misi dalam dakwahnya.

Mohon Pertolongan
Kekacauan keadaan di sekitar pusat kerajaan Mojopahit semakin lama semakin memprihatinkan, baik akibat terjadinya perang saudara maupun akibat sering terjadinya perselisihan diantara pegawai kerajaan yang sudah memeluk Islam dan pegawai kerajaan yang masih beragama Hindu.

Situasi ini ternyata membawa manfaat yang cukup besar bagi Sayyid Jumadil Kubro, penampilan yang sejuk tutur bicara yang santun ketika beliau beranjangsana ke keluarga kerajaan menjumpai Dewi Dwarawati (Darawati Murdaningrum) ternyata dapat membawa ketentraman di hati Prabu Kertawijaya Mojopahit dan keluarganya, hingga suatu saat punya angan-angan Prabu Mojopahit untuk minta tolong kepada Sayyid Jumadil Kubro untuk dapat menentramkan situasi kerajaan yang semakin hari semakin bertambah kacau.

Belum sempat Prabu Mojopahit menyampaikan permintaannya pada Sayyid Jumadil Kubro, Dewi Dwarawati yang sebenarnya adalah seorang muslimah putrid Chempa, menyampaikan usul pada Prabu Mojopahit atas saran pandangan Sayyid Jumadil Kubro supaya Prabu Mojopahit mau mengundang seorang tokoh yang dianggap mampu menentramkan situasi kerajaan Mojopahit yang sedang dilanda kekacauan itu.

Rapat Darurat
Saat kondisi kerajaan Mojopahit seperti itu maka Prabu Kertawijaya mengundang semua adipati dan para Tumenggung diajak rapat bersama yang intinya mencari orang (Ulama) yang bias menenteramkan wilayah Mojopahit. Maka pada zaman kerajaan dahulu orang Hindu sudah membuat cara apabila wilayahnya sedang kacau dan tak bias mengatasi barulah membutuhkan Ulama. Dan dalam keputusan rapat menyetujui Sayyid Ali Rahmatullah dari Chempa Muangthai (Putera Sayyid Ibrahim Samarkhani) satu-satunya orang yang akan diminta untuk menentramkan wilayah Mojopahit. Maka para adipati yang telah ditunjuk untuk berangkat ke Chempa dan diantarkan oleh Maulana Iskhak bersama-sama berangkat menuju Chempa menemui Sayyid Ali Rahmatullah.

Rombongan Majapahit Tiba Di Chempa
Setelah rombongan adipati Mojopahit dan Maulana Iskhak tiba di Chempa disambut baik oleh Raja Chempa dan mengadakan musyawarah di rtamu kerajaan juga ditemui oleh Sayyid Ibrahim Samarkhandi juga anaknya Sayyid Ali Rahmatullah.

Setelah hasil musyawarah ada kesepakatan maka berangkatlah semua adipati Mojopahit juga Sayyid Maulana Iskhak. Sedangkan Sayyid Ali Rahmatullah diantar oleh ayahnya Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi dan saudaranya Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) bersama-sama berangkat naik kapal menuju pulau Jawa (Mojopahit).

Sayyid Ali Rahmatullah Datang Di Pulau Jawa
Pada tahun 1420 M pertama kali Sayyid Ali Rahmatullah datang di pulau Jawa atas permintaan Raja Mojopahit Prabu Brawijaya I. keberangkatan beliau diantar oleh ayahnya Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi dan saudaranya Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) bersama-sama dengan rombongan Adipati Mojopahit yang diantar oleh Maulana Iskhak. Kapal yang ditumpangi rombongan tersebut berlabuh di Gresik.

Setelah para rombongan utusan Raja Mojopahit dan keluarga Sayyid Ali Rahmatullah tiba di Gresik dengan tiba-tiba Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sakit dan dibawa ke Tuban, yang akhirnya setelah di Tuban beliau wafat dan dimakamkan di Tuban (Kecamatan Palang), setelah selesai pemakaman Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi, Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) meneruskan perjalanan dakwah keliling ke Nusa tenggara, Madura sampai ke Bima. Beliau disana mendapat julukan Panditho Bima. Setelah itu beliau kembali ke Gresik dan akhirnya wafat di Gresik. Beliau di Gresik mendapat julukan Raden Santri. Beliau mempunyai anak bernama Haji Ustman (Sunan Ngudung) yang menikah dengan Siti Syariáh binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama Amir Hasan.

Dan Haji Ustman (Sunan Ngudung) juga menikah dengan dewi Sarah binti Tumenggung Wilwatikta Tuban mempunyai 2 anak : 1. Dewi Sujana yang dinikahkan dengan Umar Said (Sunan Muria) 2. Amir Haji (Sunan Kudus) menikah dengan Dewi Rukhila binti Sunan Bonang.

Adapun Sayyid Ali Rahmatullah juga meneruskan perjalanannya ke Mojopahit. Beliau beserta rombongan utusan raja Mojopahit dari Gresik numpang kapal mendarat di Canggu. Setelah tiba di Canggu para Adipati dan Tumenggung sudah menunggu kedatangan Sayyid Ali Rahmatullah. Setelah tiba di Canggu maka berangkatlah Sayyid Ali Rahmatullah beserta para Adipati dan Tumenggung menuju Kerajaan Mojopahit. Adapun dalam silsilah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) adalah anak Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi sedangkan Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi anak Sayyid Jumadil Kubro Troloyo dan Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho adalah cucu Sayyid Jumadil Kubro Troloyo. Sedangkan Maulana Iskhak adalah anak kandung Sayyid Jumadil Kubro.

Sayyid Ali Rahmatullah datang di Mojopahit
Setelah tiba di Mojopahit Sayyid Ali Rahmatullah disambut baik oleh Prabu Brawijaya I (Prabu Ketawijaya) dan permaisurinya, Dewi Dwarawati (Darawati Murdaningrum) (bibinya). Sedangkan Maulana Iskhak pergi ke Gresik ke makam Maulana Malik Ibrahim guna mohon petunjuk kepada Allah setelah wafatnya Maulana Malik Ibrahim yang sebagai Mufti Wali Songo periode I sudah wafat.

Setelah mengadakan musyawarah dengan keluarga kerajaan Mojopahit Sayyid Ali Rahmatullah mohon supaya semua Adipati dan Tumenggung dikumpulkan di ruang siding kerajaan Mojopahit. Dengan semangat semua Adipati dan Tumenggung bahkan para prajurut semua sama berkumpul di ruang siding Kerajaan Mojopahit bahkan tidak ketinggalan Ki Ageng Supo Bungkul juga ikut hadir.

Setelah Sayyid Ali Rahmatullah member nasehat tentang hokum syariát Islam, Tauhid dan Akhlaq semua sama takjub karena belum pernah mendengar. Apalagi pada waktu menerangkan tentang larangan-larangan hokum Syariát Islam dan akibat-akibat larangan agama Islam, banyak orang yang merasa ketakutan karena kenyataannya memang begitu. Yang hingga sekarang sering orang : MOH – LIMO (tidak mau dengan lima larangan), selama Sayyid Ali Rahmatullah berada di Kerajaan Mojopahit, Sayyid Jumadil Kubro sering datang ke kerajaan perlu menawarkan barang dagangannya yang berupa emas, berlian, dan lain-lain pada warga kerajaan, sambil member saran pada Sayyid Ali Rahmatullah yang masih cucunya itu.

Berdakwah Di Lingkungan Kerajaan
Sayyid Ali Rahmatullah berdakwah dengan cara terbuka member nasehat dengan lunak dan sabar. Mengangkat martabat umat yang miskin dan janda-janda apalagi yatim piatu. Dan pada waktu Sayyid Ali Rahmatullah membuat santunan pada janda-janda dan yatim piatu membuat kerajaan jadi tenteram apalagi orang-orang yang masuk agama Islam menjadi pesat perkembangannya.

Sedangkan Raja Kertawijaya semakin kagum atas pemberian santunan yang dilakukan Sayyid Ali Rahmatullah karena hal itu belum pernah dilakukan di kerajaan.

Dengan hati senang Prabu Brawijaya atas bimbingan Sayyid Ali Rahmatullah itu, maka atas jasanya, sehingga beliau diambil menantu oleh Prabu Ariyotejo Tuban, dijodohkan dengan anaknya yang bernama Dewi Candrawati dan setelah berlangsungnya akad nikah Sayyid Ali Rahmatullah memberi nama baru pada istrinya dengan nama : Nyai Ageng Manila, selain itu Sayyid Ali Rahmatullah juga diberi hadiah wilayah di Surabaya dan bangunan rumah yang tepatnya di Ampel Denta. Keberangkatannya dari kerajaan Mojopahit menuju Ampel denta Surabaya, Sayyid Ali Rahmatullah diantarkan para penduduk yang sudah masuk Islam dan Ki Ageng Sopa Bungkul juga ikut mengantarkan sambil berdakwah di Krian, Wonokromo dan Kembang Kuning Surabaya yang sekarang di bangun Masjid bernama Masjid Rahmad, sebab yang pertama mendirikan Sayyid Ali Rahmatullah.

Pada tahun 1421 M Wali Songo mengadakan rapat di Ampel denta untuk mengangkat Sunan Ampel masuk anggota Wali Songo dan sebagai pengganti Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M. rapat Wali songo yang pertama kali diselenggarakan di Ampel ini, banyak Adipati Mojopahit yang ikut hadir, terutama yang sudah masuk Islam. Bahkan Prabu Kertawijaya juga ikut hadir dan mendukung Sunan Ampel sebagai Mufti, karena beliau mengenang jasa Sunan Ampel di kerajaan Mojopahit. Dan atas keputusan rapat wali Songo tersebut, maka terbentuklah anggota Wali Songo Periode II.

Pelaksanaan rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 17 Ramadhan, maka setiap bulan Ramadhan di masjid dan makam Sunan Ampel penuh sesak dikunjungi ribuan peziarah bertujuan untuk ngalap barokah pengangkatan Sunan ampel menjadi Mufti Wali songo.

Sejak Raden Rahmat diangkat sebagai Mufti Wali Songo santrinya semakin hari semakin banyak, sehingga tempat untuk Sholat berjamaáh sudah tidak muat lagi, karena banyaknya para santri baru dan tak bias mengikuti sholat berjamaáh. Maka Raden Rahmat mengajak para santrinya membangun masjid baru dengan bangunan yang sangat besar. Sedangkan ukurannya seluas 46,80 x 44,20 = 2.068,56 m2. Adapun rangkaian bangunan masjid yang dibangun menggunakan 16 tiang dengan ukuran 0,40 m, panjang 17 m tanpa sambungan, sedangkan Raden Rahmat telah menunjuk satu santrinya yang bernama Sonhaji sebagai pelaksana pembangunan masjid. Setelah masjid itu dibangun dan bangunan hamper selesai, banyak usulan-usulan yang diterima oleh Sunan Ampel dari beberapa santri tentang arah kiblat yang tidak benar.

Namun Raden Rahmat tidak mau member jawaban tentang beberapa usulan para santri tersebut karena pembangunan masjid sudah diserahkan pada Sonhaji. Setelah itu para santri yang tidak puas dengan arah kiblat, sama-sama menemui Sonhaji perlu untuk menyampaikan usulannya tentang arah kiblat. Dengan tenang dan sabar Sonhaji menghadapi beberapa usulan santri-santri tersebut. Dengan tiba-tiba jawaban Sonhaji dengan cara membuat lubangan pada dinding pengimaman masjid sebelah barat. Setelah didnding itu sudang lobang, maka Sonhaji memanggil beberapa santri untuk melihat lubangan dinding itu. Tapi sungguh sangat mengejutkan para santri kelihatan dari lubang itu yang terlihat adalah Ka’bah yang berada di Mekkah, maka beberapa santri baru sadar dan sudah yakin dengan kebenaran kiblat masjid yang dibangun Sonhaji, atas kejadian itu para santri member nama baru pada Sonhaji dengan julukan Mbah Bolong. Setelah beliau wafat dimakamkan di sebelah barat pengimaman Masjid Ampel, sedangkan makam beliau mengundang pertanyaan. Mengapa yang ziarah ke makam beliau kebanyakan para gadis dan janda ?.

Ingin Mati Sahid
Dalam kisah Sayyid Jumadil Kubro dalam memperjuangkan agama Islam baik dengan cara berdakwah maupun berperang kesemangatannya sangat tinggi. Bahkan usianya yang sudah lebih dari seratus tahun belum pernah surut perjuangannya. Dalam usia yang sangat tua itu Sayyid Jumadil Kubro punya niat ingin mati syahid. Dengan niatnya yang baik itu Sayyid Jumadil Kubro bertapa empat puluh hari memohon kepada Allah semoga akhir hayatnya dijadikan orang yang mati syahid.

Kisah Wafatnya
Pada tahun 1465 M Wali songo sedang membangun Masjid Demak, sedangkan kerajaan Mojopahit mengadakan rapat mendadak. Semua Adipati sama hadir, kecuali Raden Patah, atas usulan Adipati yang beragama Hindu, Raden Patah harus dipanggil dan diadili karena tidak mentaati peraturan kerajaan Mojopahit.

Dengan sengat para Adipati yang beragama Hindu berangkat ke Demak bertujuan memanggil paksa Raden Patah. Namun setelah di Demak, para Adipati tersebut ditemui oleh Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi. Setelah para Adipati menyampaikan tujuannya memanggil paksa Raden Patah, dengan nada keras Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi mengusir para Adipati yang punya niat buruk itu. Sehingga terjadilah pertempuran yang akhirnya para Adipati mundur kembali ke Mojopahit. Setelah itu, Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi beserta para santri berangkat ke Mojopahit, tujuannya memerangi para Adipati yang masih beragama Hindu itu.

Setibanya di Mojopahit terjadilah peperangan yang sangat dahsyat sehingga banyak Adipati yang gugur. Namun sudah menjadi niat Sayyid Jumadil Kubro ingin mati syahid, maka saat itu juga Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi juga gugur di medan peperangan. Dan tempat terjadinya peperangan di desa Troloyo pada tanggal 15 Muharram 857 H. kedua orang tersebut menjadi anggota Wali Songo selama 61 tahun (enam puluh satu) tahun. Adapun Sayyid Jumadil Kubro dimakamkan di desa Troloyo, dan beliau wafat berusia 116 tahun. Sedangkan Maulana Maghribi oleh para santrinya dimakamkan di Jatianom Klaten Jawa Tengah (di pesantrennya).

Setelah peperangan sudah reda, Wali Songo mengadakan rapat yang ketiga kalinya bertempat di Ampel perlu mengangkat anggota baru untuk menggantikan anggota yang sudah wafat.

Sirna Hilang Kertaning Bumi
Pada tahun 1465 M setelah wafatnya Sayyid Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi disebabkan perang melawan pasukan Hindu Mojopahit.

Atas wafatnya kedua anggota Wali Songo bukanlah suatu kemenangan bagi kerajaan Mojopahit, malah membuat malapetaka. Apakah yang terjadi ? Prabu Kertabumi semakin beringas dan menuduh beberapa Adipati dengan tuduhan munafik, karena banyaknya Adipati dan Tumenggung yang masih memeluk agama Hindu banyak yang gugur. Atas tuduhan sang Raja tersebut banyak Adipati yang menentang tuduhannya, sehingga terjadi perselisihan dan sebagian ada yang memisahkan diri dari wilayah kerajaan Mojopahit. Setelah itu sang raja bersama-sama Adipati yang masih mengikuti kerajaan Mojopahit mengadakan rapat mendadak, karena ada kabar sebagian Adipati ada yang mau menyerang kerajaan Mojopahit yang di dukung oleh Kerajaan Kediri. Dengan adanya kabar tersebut Prabu Kertabumi sangat kebingungan. Di saat itulah Tumenggung Satim Singomoyo mulai berani mengajukan seruan pada Kertabumi yang intinya Prabu Kertabumi diajak masuk agama Islam dan tentang kerajaan disatukan dengan Wali Songo agar kerajaan lebih kuat. Namun usulannya ditolak oleh Prabu Kertabumi.

Setelah usulan Tumenggung Satim Singomoyo ditolak oleh sang raja, maka tak lama lagi sudah menjadi kenyataan apa yang terjadi ? pada tahun 1478 M pasukan perang dari Keling Kediri yang dipimpin Girindra Wardana yang jumlahnya ribuan dengan mendadak langsung melingkari kerajaan Mojopahit. Sedangkan Prabu Girindra Wardana langsung masuk menemui Prabu Kertabumi. Atas pertemuan kedua raja tersebut Prabu Kertabumi tidak mengadakan perlawanan tapi langsung membuat surat penyerahan kerajaan Mojopahit pada Girindra Wardana, setelah Prabu Kertabumi membuat surat penyerahan, Raja Mojopahit tersebut langsung pergi ke lereng Gunung Lawu.

Gugurnya Sunan Ngudung
Pada tahun 1481 M Girindra Wardana menyerang Sunan Giri, karena khawatir akan berdirinya kerajaan Islam di Jawa Timur. Namun usahanya gagal karena mengalami kekalahan, meskipun mengalami kekalahan, usahanya pantang mundur, beliau masih punya rencana ingin menyerang Wali Songo dengan cara sangat licik yang intinya orang Islam Mojopahit bias berperang melawan Wali Songo. Pada saat Raden Patah membuat utusan ke Mojopahit untuk mencabut surat penyerahan kerajaan Mojopahit dari Girindra Wardana yang ditandatangani Prabu Kertabumi, namun oleh Prabu Girindra Wardana ditolak dengan cara kasar, sehingga menyulut Wali Songo diajak berperang. Karena Raden Patah merasa punya hak waris kerajaan Mojopahit, maka Raden Patah menugaskan Sunan Ngudung sebagai senopati Demak untuk memimpin perang melawan Mojopahit, setelah pasukan Demak tiba di Mojopahit terjadilah peperangan yang sangat hebat dan peperangan berlangsung hamper dua tahun, saat peperangan ini Sunan Ngudung membawa riwayat dan membuang waktu yang sangat panjang, hingga beberapa kesaktiannya sama-sama dikeluarkan. Di akhir peperangan itulah Sunan Ngudung gugur melawan pasukan perang Mojopahit. Peperangan yang menelan banyak korban itu pasukan Demak hamper mengalami kekalahan. Berkat siasat Sunan Kalijaga, dengan cara sembunyi-sembunyi menemui pemimpin perang Mojopahit, ternyata yang memimpin perang adalah Raden Husen adik kandung Raden Patah, setelah mengadakan pertemuan barulah Raden Husen mengerti kalau orang Islam Mojopahit diadu oleh Girindra Wardana untuk melawan Wali Songo. Atas hasil musyawarah Raden Husen dengan Sunan kalijaga membawa hasil yang sangat memuaskan. Apakah yang terjadi ? Pasukan perang yang dipimpin Raden Husen bergabung dengan pasukan Demak berbalik arah sama-sama menyerang pasukan Mojopahit yang dikuasai Prabu Girindra Wardana itu, sehingga pasukan Raja Girindra Wardana merasa terdesak dan melarikan diri bersama-sama rajanya.

Keterangan sejarah babad tanah Jawa, setelah Raden Patah berhasil merebut kerajaan Mojopahit dari kekuasaan Prabu Girindra Wardana, Raden Patah beserta Sunan Kalijaga langsung ke Sunan Giri perlu melaporkan atas kemenangannya.

Setelah kedua orang anggota Wali Songo itu tiba menghadap Sunan Giri, selain melaporkan keberhasilannya merebut kerajaan Mojopahit juga mengadakan musyawarah tentang kelanjutan kerajaan Mojopahit.

Tentang kerajaan Mojopahit Sunan Kalijaga membuat usulan : Sebaiknya tentang harta kerajaan Mojopahit supaya dibagikan pada semua fakir miskin saja, adapun bangunan (Istana Kerajaan) dibingkar dan diboyong ke Demak sekaligus pusaka-pusaka yang ada sebagai bukti kalau raden Patah adalah hak waris kerajaan Mojopahit. Sedangkan usulan Raden Patah, “Saya pasrahkan apa keputusan Sunan Giri”. Setelah beberapa usulan diterima oleh Sunan Giri, lalu Sunan Giri member keputusan : “Bahwa Sunan Giri menyetujui usulan Sunan Kalijaga tentang bangunan dan semua pusaka-pusaka di boyong ke Demak”. Namun, tentang harta kerajaan Mojopahit yang dipandang terlalu banyak untuk nilai sekarang mencapai puluhan triliyun supaya ditinggalkan saja biar dirawati dan dijaga oleh beberapa makhluk halus (sebangsa jin) yang nantinya akan diserahkan pada Imam Mahdi di akhir zaman. Karena beliaulah nanti yang bias mengatur seluruh harta peninggalan Mojopahit ini. Itulah keputusan Sunan Giri.


Sumber :
1.Punjer Wali Songo – Sejarah Sayyid Jumadil Kubro Penyusun : H. Moch. Cholil Nasiruddin
2.Silsilah Sayyid Jumadil Kubro wa Usulihi wa Furuíhi, dikutib dari Kitab Tarikh Auliya’ Mustofa Bisri – Rembang
3.Silsilah Rasulullah dikutib dari keterangan K.H. Mahmud bin Muhtar bin Siddiq Al Khoyyathi PP Salafiyah Darul Ulum Pelumbon Cirebon Jawa Barat.


Sunan Panggung

Sunan Kalijogo berputera Sunan Panggung dari hasil pernikahannya dengan Retna Siti Zaenab yang saudaranya Sunan Gunung Jati.

Sunan Panggung muda, semula mempelajari Syari'ah sampai menguasai hal-hal syari'ah tersebut. Selanjutnya beliau juga mempelajari Thoriqoh, dan Sunan Panggung muda kemudian sangat-sangat tertarik dengan Hakikat dan Ma'rifat, dan diceritakan beliau juga sakti mandraguna disamping beliau adalah sufi terkemuka.

Beliau memelihara dua ekor anjing, yang kemudian dinamai dengan Ki Iman dan Ki Tokid. Dua ekor anjing ini sering dibawa pergi ke pasar dan sering dipanggil-panggil namanya, Imaaaaan, ..... Tokiiiiid....

Sunan Panggung muda, yang sengaja membiarkan agar dia ditangkap, tidak melawan. Fatwa Sunan Kudus ialah, Sunan Panggung harus dibakar hidup-hidup.

Sejarah mencatat, Sunan Panggung muda bisa lolos dari hukuman itu.

Versi yang di masyarakat adalah : Sunan Kudus jadi membakar Sunan Panggung muda, tetapi Sunan Panggung muda malahan enak-enak duduk-duduk saja tersenyum, Malahan beliau pada waktu itu sambil menulis Suluk Malang Sumirang.

Ada beberapa tulisan Sunan Panggung, antara lain cuplikannya ialah :

Orang yang tak mengetuk pintu rahasia Allah, hanyalah terbelenggu oleh aturan syari'ah. Sembahyang sunnah dan fardu tak pernah tertinggal, tetapi lalai terhadap tetangganya yang lapar. Sepedati penuh kertasnya... tetapi... Yang dibicarakan hanyalah masalah halal dan haram.


Kisah Sunan Panggung dan Suluk Malang Sumirang

Sunan Panggung atau Syekh Malang Sumirang


Sunan Panggung atau Syeikh Malang Sumirang, yang memiliki nama asli Raden Watiswara, diperkirakan hidup antara tahun 1483-1573 m. Beliau putra dari Sunan Kalijaga hasil perkawinan dari Siti Zaenab Saudara Sunan Gunungjati. Menurut Babad Jalasutra sebelum di jatuhi hukuman bakar hidup-hidup, ia memiliki istri Wasi Bagena dari Jatinom Klaten yang masih cucu Brawijaya 8.

Kepribadian Sunan Panggung sangatlah unik. Beliau memiliki lelewa (tingkah laku) mirip ayahnya yang menjadi wali nyentrik Sunan Kalijaga. Dan berguru kepada Syeikh Siti Jenar, Sunan Kalijaga, dan sangat menghormati ayahandanya dan gurunya yang terkenal wali nyentrik di tanah Jawa. Semula beliau dikirim Raden Patah ke pengging untuk menjadi mata-mata. Namun beliau justru tertarik dengan ajaran-ajaran Syeikh Siti Jenar dan menjadi pengikut setianya.

Karena sikapnya itu ia mendapatkan peringatan keras dari dewan Wali Songo, kecuali ayahnya sendiri Sunan Kalijaga, yang tetap membiarkan anaknya mengikuti Syeikh Siti Jenar (hal ini bisa di maklumi karena paham teologi-sufi Sunan Kalijaga dan Syeikh Siti Jenar sama. Hanya penyampaiannya saja yang berbeda). Peringatan keras dari pihak Demak dan Dewan Wali tidak digubris oleh Sunan Panggung. Karena dalam hal ini beliau sudah membuktikan sendiri melalui laku dan perjalanan spiritualnya, tentang ajaran Syeikh Siti Jenar dan bisa membedakan dengan ajaran syar'iah pada waktu itu. Yang hanya menuntut diberlakukan syar'i dan maknanya. Maka Akidah yang beliau ikuti adalah penyatuan dengan Tuhan/ilmu makrifat yang sesuai dengan ajaran Syeikh Siti Jenar. Syariat yang beliau jalankan adalah sholat daim, dan cara penyebaran ajarannya adalah secara terbuka, untuk umum, tidak ada yang di rahasiakan. Dan tidak menganggap orang lain lebih bodoh darinya, sehingga setiap orang selalu bebas untuk memperoleh kesempatan mendapat ilmu agama jenis apapun.

Sampailah suatu saat, terjadinya tragedi dihukumnya guru agungnya Syeikh Siti Jenar. Sunan Panggung marah besar. Sebab Para Wali menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak berdosa. Untuk itu ia mengatur strategi dan siasat, setelah belajar dari dua kasus pendahulunya yang dihukum mati yaitu Ki Ageng Pengging dan gurunya Syeikh Siti Jenar.

Sunan Panggung mendirikan Paguron Lemah Abang di Pengging. Dan beliau berhasil merekrut siswa yang sangat banyak. Bahkan Kyai yang semula di kader oleh Dewan Wali Songo yang di doktrin untuk menyingkirkan ajaran Syeikh Siti Jenar, justru menjadi murid setia Sunan Panggung.

Selain itu, Sunan Panggung berprilaku aneh cara memperingatkan Dewan Wali Songo. Sebagai balasan atas Dewan Wali Songo. Sunan Panggung kemudian melakukan tindakan balasan yang terhadap Dewan Wali Songo. Dengan cara memelihara dua ekor anjing yang di peliharanya sejak kecil, yang di beri nama ki tokid (tauhid) dan ki iman. Kemudian anjing itu di ajak berlari-lari mengelilingi Masjid Jami', sambil bergurau.

Tindakan ini di samping menggambarkan pendapat al Hallaj. Agar nafsu hewan di buang ke luar dari jiwa manusia. Juga sekaligus menunjukkan kepada Dewan Wali Songo dan penguasa Demak, bahwa anjing tersebut juga beriman dan bertauhid kepada Allah. Dan anjing tidak menjalani kehidupan kehendaknya sendiri seperti kebanyakan manusia. Yang di balut dengan alasan keagamaan. Padahal agama itu hanya berdasarkan tafsir nalar dan dasar hukum syara' yang dhohir.

Karena perguruan Sunan Panggung di anggap membahayakan oleh Dewan Wali dan Demak khususnya. Karena ajaran yang dulu pernah dilarang. Kini malah di hidupkan kembali. Untuk itu penguasa dan Dewan Wali mengadakan sidang untuk mengambil tindakan untuk Sunan Panggung. Dari hasil sidang di sepakati bahwa pemanggilan kepada Sunan Panggung harus dengan cara halus dan diundang untuk memecahkan masalah pemerintahan. Jika sudah hadir, maka Dewan Wali membujuk, untuk menutup perguruannya dan bergabung dengan Dewan Wali. Termasuk mematuhi konsep keagamaan yang sudah di gariskan kerajaan Demak. Selain itu juga di sepakati, agar penghukuman terhadap Sunan Panggung jangan sampai memunculkan kehebohan sebagaimana pendahulunya. Yakni agar Sunan Panggung di bakar hidup-hidup, dan tempatnya langsung disediakan di alun-alun sebelum Sunan Panggung datang.

Sunan Panggung diundang oleh pihak kerajaan. Dan akhirnya Sunan Panggung menyanggupi undangan tersebut bersama utusan dari pihak Demak. Sunan Panggung beragumentasi, bahwa inilah saat yang tepat untuk mengkritik model dan materi dakwah, serta arogansi agama syar'i yang di jalankan pihak Demak.

Sunan Panggung datang ke Demak di sertai dua anjingnya. Sesampai di alun-alun, ia melihat tumpukan kayu yang di siram minyak. Sunan Panggung sudah menduga siasat penguasa Demak yang akan di lakukan padanya. Namun Sunan Panggung sudah berketatapan hati untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Setelah matahari sebesar kemiri condong ke barat, Gunung Muria merendah, Alun-alun Demak menjulang, orang-orang masih berdesakan. Mereka tak percaya sesuatu yang terlihat oleh mata, Malang Sumirang raganya tidak tersentuh oleh amukan api.

Sang tanur menjadi mahligai elok berhias permai dikelilingi pertamanan. Bertabur kembang lengkap dengan hamparan mutiara. Busana dari surga yang teramat wangi harum semerbak laksana busana Nabi Ibrahim yang diturunkan dari surga.

"Lihat! Sunan tidak terbakar. Bisa mati di dalam hidup, dan hidup dalam mati."

"Memancar cahaya kemilau dan bau harum semerbak."

Orang-orang berguman dalam hati, Malang Sumirang diuji dengan dibakar hidup-hidup, tetapi terus hidup.

Dalam semarak amukan api, Malang Sumirang menulis suluk dengan pembuka Dhandhanggula. Malang Sumirang telah menaiki burung Sadrah karena begitu mendalamnya rindu dalam pencarian ilmu kesejatian hidup yang sempurna.

Malang Sumirang nyata lahir batinnya keliputan sanyata wali, mulia pikirannya tiada batas jadi barang yang diinginkannya sempurna sampai hakikat rasa puncaknya ilmu. Ilmu sejati rasa yang meliputi rasa. Rasa yang sejati. Sejatinya rasa. Bukan rerasan yang diucapkan, bukan rasa yang ke enam, bukan pula rasa yang tercecap di lidah. Bukan rasa yang terbersit di hati, bukan rasa yang ciptakan, bukan pula rasa yang dirasakan tubuh. Bukan rasa yang dirasakan suara dan bukan pula rasa kenikmatan dan derita sakit. Sejatinya rasa yang meliputi rasa, rasa pusarnya rasa.

Para wali yang telah menjatuhkan hukuman mati dengan dibakar hidup-hidup, hanya terbengong. Sunan Kudus, kemenakannya, menjadi limbung. Bingung melihat kenyataan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Para wali terlanjur menghukum Malang Sumirang, karena dituduh telah menyebarkan ilmu sesat. Gemar memelihara anjing dan dilatih untuk menurut sampai mengerti bahasa manusia. Tidak saja menghindari shalat di masjid, malah sering mencemari masjid membawa anjing piaraan, binatang yang sangat jorok, liurnya najis.

Jalan yang ditempuh Malang Sumirang "jalan kegilaan", Tariq Majnun Rabbani. Gila karena tergila-gila kepada Tuhan. Linglang-linglung lupa daratan, terbenam senang dalam nikmat dahsyat. Kegilaannya itu pada mulanya ditujukan oleh ketidak aktifannya sendiri, sikap acuh tak acuh pada hukum.

Para wali menunduh Malang Sumirang telah menyingkir dari ajaran agama, tata syariat dilalaikan. Para santrinya malah menyebutnya, Sunan Panggung. Sunan yang hidup di tengah hutan dengan pohon-pohon berbatang besar, pang-gung atau cabang besar. Sunan, Susuhunan, Susunan, atau Sinuhun, "Dia yang Dijunjung". Gelar ini sesungguhnya khusus untuk hierarki wali Islam yang memiliki wilayah perdikan dan sebutan bagi penguasa tertinggi Mataram.

Para santrinya sangat menghormati, tunduk dengan segala perintah dan mengikuti semua ajarannya. Para santri diajari mencari kehidupan yang sempurna, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. "Manusia tidak lain hanyalah jasad-jasad mati yang dipenuhi oleh nafsu lauwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Kita lepaskan nafsu-nafsu itu karena di tengah-tengah nafsumu bertakhta sirr atau rahasia yang tersembunyi, roh dalam jiwa, kesempurnaan yang benar-benar sempurna."

"Inggih, Sunan." "Wayang dan bayangan harus menyatu dalam satu jiwa. Roh dalam jiwa memainkan mahkluk-makhluk atas kehendak-Nya."

"Inggih, Sunan." "Sejatinya yang memerintah kita bukanlah tubuh kita, tetapi roh dalam jiwa."

"Inggih, Sunan." "Seperti Kresna yang memerintah kerajaan, hakikatnya bukan Kresna. Tetapi Kresna Dwarawati. Kresna yang di dalamnya bertakhta roh Wisnu. Kresna titisan Wisnu."

"Inggih, Sunan." "Bebaskan roh kalian dari ikatan hukum-hukum yang menghalangi kebebasan roh yang menuju dan menyatu dengan Tuhan."

"Inggih, Sunan." "Hakikat hidup abadi baru dimulai sesudah mati."

Mendengar kalimat terakhir, para santri secara serentak tiba-tiba memukuli dirinya sendiri. Menyiksa dirinya sendiri, membentur-benturkan kepalanya di sembarang tempat sambil berteriak, "Aku ingin mati....aku ingin mati!" "Aku ingin bunuh diri!"

Desa Ngundung, daerah tempat tinggal Malang Sumirang, menjadi gempar. Para santri Malang Sumirang mencari mati. Mencari orang yang mau menolong untuk membunuhnya. Semua orang diteror agar penduduk menjadi marah, ini suatu jalan untuk mencari kematian.

Melihat tingkah santri-santrinya, Malang Sumirang menjadi bingung, dia berlarian mengejar dan memanggil para santri, sambil berteriak, "Bunuh diri dosa besar!" Teriakan Malang Sumirang, menghentikan polah dan perilaku para santri.

Secara serentak para santri menghambur mendekati Malang Sumirang dan berlutut mengelilingi. Para santri merunduk dan terdiam, suasana menjadi hening. Beberapa saat setelah larut dalam diam, Malang Sumirang mengajak santri-santri melepaskan roh dari badannya.

Kesengsaraan dunia ini tidak lain suatu kegilaan, orang-orang mencari kebutuhan badaniah tanpa memperhatikan kebutuhan rohani. Orang-orang mencari kenikmatan, namun hanya penderitaan yang dijumpai. Manusia bingung karena tidak mengenal dirinya sendiri, karena dijadikan buta oleh hawa nafsu. Mencari ilmu suci tidak mungkin diperoleh dengan alat panca indra, karena sifatnya yang kotor, najis dan palsu.

Kebaruan adalah kepalsuan, kekotoran dan kenajisan, yang segera hancur bersama-sama tibanya ajal. Hidup sesudah lahir adalah kebaruan maka itu palsu, najis, dan kotor. Hidup sesudah kelahiran adalah kematian yang sesungguhnya. Kedaaan kematian itulah yang membuat manusia tidak bisa bebas dari nafsu, kebohongan, kebutuhan kekuasaan, makan, minum, bahkan shalat, puasa, zakat, haji.

Kembalinya manusia ke asal dari mana ia lahir, sesudah ajal tiba nantilah hidup yang sesungguhnya, ketika manusia tidak lagi membutuhkan apa pun, termasuk keinginan, karena keinginan adalah awal dari kesengsaraan. Di mata Malang Sumirang para wali telah keliru memanjakan pemerintahan yang tidak adil, menindas dan korup. Makna tidak memiliki kekayaan apa-apa dalam bahasan dan perenungan tanpa adanya pemikiran.

Syeikh Siti Jenar, sebuah perlawanan terhadap para wali yang mendukung Demak. Maka oleh penguasa ajaran Syeikh Siti Jenar dianggap bukan hanya sesat tetapi juga mengganggu ketenteraman masyarakat dan mengancam stabilitas kerajaan Raden Patah. Karena gagal membujuk, atas nama Raja Demak, Dewan Agama menetapkan hukuman mati bagi Siti Jenar.

"Berbadan roh". Malang Sumirang berguman seperti mendengung. Para santri menirukan apa yang diucapkan Malang Sumirang secara bersama dan berulang seperti berzikir.

"Berbadan roh" "Aku bukan Siti Jenar, aku Malang Sumirang, kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Para wali mengajarkan hukum syar'i, tetapi tidak memahami lambang-lambang.

"Para santri tenggelam dalam ekstase kegilaan, jagad suwung, angin seperti berhenti berembus lari ke awang-awang dan uwung-uwung. Jagad menjadi pertapaan sunyata, bumi resah! Malang Sumirang mencari ilmu kesejatian.

Berguru pada Sunan Giri Prapen, tatkala diajari ilmu sejati, usianya baru tujuh belas tahun. Sejak saat itu sering menyiksa raga, bertapa.

Malang Sumirang mengaku berbadan rohani. Para wali menyebut Malang Sumirang sebagai orang yang tidak senonoh, tak pantas, dan anarkis, bahkan teroris, menjadi simbol antitatanan.

Pengakuan Malang Sumirang dan perilaku santri-santrinya membuat para wali geram. Para wali menuduh Malang Sumirang mewariskan suluk liar mengingkari semua tatanan atas nama anarki jalan kegilaan. Menyingkap tabir rahasia, menyurat yang tersembunyi. Setelah mempertimbangkan pendapat para wali Sultan Demak, memutuskan Malang Sumirang dihukum dengan dibakar, pati obong, di Alun-alun Demak.

Mendengar keputusan majelis para wali Malang Sumirang tidak menampakan ketakutan, bahkan menantang keponanakannya, Sunan Kudus, untuk segera menyalakan unggun. Sebelum berjalan menuju api pembakaran, Malang Sumirang minta disediakan tinta dan kertas dua bendel.

Sultan Demak dan para wali semakin bingung, permintaan Malang Sumirang sangat aneh. Malang Sumirang berjalan menuju api pembakaran, tidak ada kata lain yang terucap dari mulutnya selain kata, kebenaran.

Api membumbung ke angkasa, Malang Sumirang bergegas naik ke atas unggun dan dua anjingnya yang setia mengikuti, terjun ke dalam api. Matahari semakin mengecil, Gunung Muria kembali menyembul, angin bergegas dari awang-awung dan uwung-uwung melintasi Alun-alun Demak. Kobaran api semakin menggila, Malang Sumirang tidak tersentuh amukan api.

"Lihat! Di dalam api dengan enaknya Sunan menulis. Api terus menjilat, menyala lama namun Sunan tetap tenteram seakan bernaung di kolam bening. Raganya tak mempan amukan api."

"Ya, seperti Sinta...” Seperti Nabi Ibrahim..." Orang-orang terperanjat dan mundur beberapa langkah melihat dua sosok keluar dari amukan api. Dua anjing Malang Sumirang keluar dari unggun membawa lembaran kertas yang telah tertulis Suluk Seh Malang Sumirang.

Lembaran kertas itu dibagikan pada semua yang ada di Alun-alun Demak, termasuk para wali, Sultan Demak dan para petinggi kerajaan lain. Beberapa saat ketika orang-orang belum selesai membenahi keterperanjatannya, Malang Sumirang keluar dari api unggun. Seluruh tubuh dan baju yang dikenakan tidak ada tanda-tanda tersentuh oleh jilatan api. Orang-orang semakin takjub, berusaha menahan kedipan mata.

"Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahami karena hanya sibuk menghitung dosa-dosa kecil yang diketahui. Tentang hal kufur-kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan. Sembah puji puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran. Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa-dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur-kafir yang dijauhi justru membuatnya bingung. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Mencipta dan Maha Memelihara".

Suluk Seh Malang Sumirang tercipta dari amukan api yang tiada mampu menyentuh jasad Malang Sumirang. Suluk sang sufi gila, sosok antitatanan yang tidak terjangkau poros kekuasaan. Malang Sumirang mewariskan suluk liar mengingkari semua tatanan. Menyingkap tabir rahasia, menyurat yang tersembunyi. Suluknya lebih tajam dari pedang Sultan Demak...

"...Manusia, sebelum tahu maknanya Alif, akan menjadi berantakan... Alif menjadi panutan sebab huruf, Alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif lapat. Sebelum itu jagad ciptaan-Nya sudah ada. Lalu Alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. Alif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenis ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman, syariat. Allah itu penjabarannya adalah Zat yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti Alif. Allah itulah adanya. Alif penjabarannya adalah permukaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Zat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang-benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan zat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut zikir sejati, laa ilaaha illallah."

*) Sultan Demak dan para wali tercengang, membaca keelokan Suluk Malang Sumirang, elok susah untuk kisahkan. Sultan Demak membisik pada Sunan Kudus menyarankan Malang Sumirang, untuk menyingkir dan menjauh dari Negeri Demak. Dengan langkah ragu, Sunan Kudus mendekat Malang Sumirang. Berusaha menyembunyikan Wajahnya yang nampak pucat, Sunan Kudus berkata sambil menunduk, "Paman telah terbukti benar sungguh benar tanpa batas di dunia tiada tara di seluruh ciptaan. Paman tercipta sempurna, jiwa-raga titis terus tertembus sempurna nyata sunyata. Namun Paman, jagalah derajat agama, hormatilah batasnya, singkirkan kesalahan, patuhlah pada syariat untuk menjaga makna.''

Dalam tatanan yang menata negeri aturan agama bertakhta dengan syariat. Lebih baik Paman jauh dari negeri. Jangan sampai membawa kekacauan dengan pembangkangan. Menguraikan ikatan menjarangkan pagar, memecahkan baris, merobohkan bendera. Kemanapun Paman pergi, padepokan mana yang pantas ditempati, tempat keramat mana yang menjadi pilihan, adalah kewajiban negeri melengkapi apa yang harus dilengkapi.

"Malang Sumirang tak gimir dengan tawaran pertapa yang mewah. Malang Sumirang memilih pergi ke hutan angker, Kalampisan, tempat wingit, sunyi, jauh dari manusia. Para wali hanya bisa menggelengkan kepala tanpa suara. Matahari telah surup orang-orang hanya terbengong melihat Malang Sumirang meninggalkan Alun-alun Demak. Malang Sumirang pergi meninggalkan teka-teki, sufi gila antitatanan memiliki keberanian yang tak tertundukan oleh kekuasaan. Mengungkap rahasia kesempurnaan yang benar-benar sempurna. Tetapi sejarah selalu berpihak pada penguasa. Dan akhirnya Sunan Panggung meneruskan perjalananya kearah utara dan kemudian beliau menetap di Kendal (Kabupaten Kendal Jateng) memperkuat tugas dakwah yang sudah di lakukan oleh Syeikh Abdullah/Sunan Katong/Sunan Gembyang. Di daerah ini Sunan Panggung di kenal dengan nama Syeikh Wali Jaka, karena sejak kedatanganya di Kendal, walau sebenarnya sudah beristri, tidak nampak memiliki istri dan anak setelah wafat menurut Babad Semarang beliau di semayamkan di depan Masjid Kendal.

carilah kebenaran dengan hati
carilah hakiki dari agama
insya allah pasti engkau akan tau
makna sejati
bukan agama sebagai pemuas hawa nafsu
carilah diri sejatimu sebelum
engkau berbicara soal ketuhanan
jangan jadi orang sok suci
karna kesucian adalah milik
orang yang mengenal kesucian itu sendiri


Tahukah anda ?? "waktu sholat merupakan pilihan waktu sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat.

Mengertikah anda Sholat Dhuhur mengapa empat raka’at? Itu disebabkan kita manusia di ciptakan dengan dua kaki dan dua tangan.

Sedangkan Sholat Ashar empat raka’at juga, adalah kejadian bersatunya dada dengan telaga al kautsar dengan punggung kanan dan kiri.

Sholat Maghrib itu tiga raka’at, karena kita memiliki dua lubang hidung, dan satu lubang mulut.

Adapun Sholat Isya’ menjadi empat raka’at karena adanya dua telinga dan dua mata.

Adapun Sholat Shubuh, mengapa dua raka’at adalah perlambang kejadian badan dan nyawa roh kehidupan.

Sedangkan Sholat Tarawih adalah sunnah muakad yang tidak di tinggalkan dua raka’atnya oleh yang melakukan, menjadi perlambang tumbuhnya alis kanan dan kiri.

Adapun yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya. Sholat Shubuh yang memiliki adalah Nabi Adam as, ketika di turunkan dari surga mulia. Terpisah dengan istrinya hawa menjadi sedih karena tidak ada kawan. Lalu ada wahyu melalui malaikat jibril yang mengemban perintah Tuhan kepada Nabi Adam as, "terimalah cobaan Tuhan, Sholat Shubuhlah dua raka’at. Maka Nabi Adam as pun siap melaksanakanya. Ketika Nabi Adam as melaksanakan Sholat Shubuh pada pagi harinya, ketika salam. Telah mendapati istrinya berada di belakangnya, sambil menjawab salam.

Sholat Dhuhur di maksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim as pada zaman kuno mendapat cobaan besar, di masukkan kedalam api hendak di hukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu Ilahi, di suruh melaksanakan Sholat Dhuhur empat raka’at. Nabi Ibrahim as melaksanakan Sholat api seketika padam saat itu juga.

Adapun Sholat Ashar, di maksudkan ketika Nabi Yunus as sedang naik dimakan ikan besar. Nabi Yunus as merasa kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu terdapat wahyu Illahi. Nabi Yunus as di perintahkan Sholat Ashar empat raka’at. Nabi Yunus as segera melaksanakanya, dan ikan itu tidak mematikanya. Malah ikan itu mati, kemudian Nabi Yunus as keluar dari perut ikan.

Sedangkat Sholat Maghrib pada zaman kuno yang memulai adalah Nabi Nuh as. Ketika musibah banjir bandang sejagad, Nabi Nuh as bertaubat merasa bersalah. Dia diterima tobatnya di suruh sholat maghrib tiga raka’at. Setelah Nabi Nuh as melakukan Sholat Maghrib banjir pun surut seketika.

Dan Sholat Isya’ sesungguhnya yang memulai Nabi Isa as ketika kalah perang melawan Raja Harkiya/Raja Herodes semua kaumnya bingung tidak tau utara, selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa as merasa susah, dan tidak lama kemudian datang Malaikat Jibril membawa wahyu dengan uluk salam. Nabi Isa as diperintah melaksanakan Sholat Isya. Nabi Isa as menyanggupinya, dan semua kaumnya mengikutinya, dan Malaikat Jibril berkata, "aku akan membalaskan kepada pendeta balhum".



English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tarekat Naqsybandiyya Nazimiyya

Donasi

 
Diizinkan Dicopy & Disebarkan Untuk Dakwah Cantumkan www.mistikuscinta.com
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
The Official Blog Of Mistikus Cinta: Mozaik Sufi | SufiTube | Proudly powered by Mistikus Cinta G+
Copyright © 2005. Mistikus Cinta - All Rights Reserved